Dari Kisah Mahabarata Sampai Kuliah Pengantar Fisika Nuklir: Burung-Burung Rantau-Y.B. Mangunwijaya

Novel karya Romo Mangun, Burung-Burung Rantau diterbitkan ulang oleh PT Gramedia Pustaka Utama Agustus 2014 lalu. Buku setebal 406 halaman ini cukup memakan waktu saya untuk menyelesaikan membacanya.

Banyak hal yang menarik bagi saya dalam novel ini, seperti diskusi kakak beradik tentang pandangan satu orang dan orang lainnya, bahwa jika pandangan sesorang berbeda dengan orang lainnya bukan berarti pandangan mereka berbeda atau berlawanan, tapi sudut dan cara pandangnya saja yang berbeda. Dengan latar tempat yang cantik, Yunani, tempat dimana segala mitos dewa-dewi menjadi peradaban tapi yang kemudian melahirkan filsuf-filsuf modern.

Untuk mereka saya yang pemula dalam kisah klasik legendaris pewayangan Mahabarata, novel ini sangat membantu pada kisah-kisah yang kadang tidak masuk akal dalam kisah Mahabarata. Seperti mengapa pasangan dewa-dewa disebut sakti, bukannya istri seperti istilah umum yang dikenal. Atau mengapa Drupadi menikah dengan kelima Pandawa.

Selain kisah Mahabarta, dalam novel ini juga seperti mengikuti perkuliahan Pengantar Bioteknologi dan Pengantar Fisika Nuklir, sungguh membuat berpikir. Tapi sepertinya lebih mudah dipahami daripada harus mengikuti kelas dengan dosen-dosen ahli yang menggunakan bahasa tingkat tinggi sebagai bahasa pengantarnya. Tetapi untuk mereka yang program kuliahnya mewajibkan Pengantar Bioteknologi dan Pengantar Fisika Nuklir tidak bisa menggantinya dengan membaca novel ini, mungkin sebagai bacaan di paruh waktu saja.

Kisah Mahabarata dan kuliah Pengantar Bioteknologi ini disampaikan oleh Krish. Bagaimana dia menjelaskan berdasarkan apa yang dipercayainya, bahwa hidup ini fana belaka, tidak nyata dan bagaimana dia menjadi ‘tuhan’. Bowo yang menjelaskan pembentukan galaki raya yang hanya berasal mula dari aku tanpamu butiran debu saja. Atau betapa besar energi dari satu atom kecil tak nampak, seperti kata Einstein (cari ejaan nama yg benar) E = m.c2 energi yang terbentuk untuk satu massa atom saja adalah hampir 9 dengan sepuluh 0. Juga bagaimana yang ‘ada’ dipertemukan dengan ‘lawan’nya menjadi ‘tiada’. Kisah-kisah ini sebenarnya mengingatkan saya pada buku-buku Romo J. Sudrijanta, S.J., bahwa yang ada itu adalah tidak ada.

Tidak mengerti apa yang saya tuliskan, bukan novel ini yang sulit dipahami tapi saya yang sulit menuliskannya. Mungkin karena sudut dan cara pandang saya berbeda dengan pembaca sekalian. Jadi lebih baik baca saja sendiri, dengan itu mungkin pembaca bisa paling tidak tahu sudut dan cara pandang saya.

Selamat hari Jumat Agung & malam Purnama Kadasa. Besok malam selain Sabtu Sunyi, ada gerhana bulan juga.

Generasi kita adalah burung-burung rantau yang sedang terbang ke benua-benua lain. Burung-Burung Ratau-Y.B. Mangunwijaya

Advertisements