Cinta yang Tak Mati-Mati: Rahvayana Aku Lala Padamu-Sujiwo Tejo

IMG_20160624_220259[1]IMG_20160624_220747[1]

Novel Sujiwo Tejo ini adalah sebuah saduran lakon kisah cinta yang tragis yang melegenda dari anak benua sampai ke nusantara, Ramayana. Tapi bukanlah Rama seperti kisah dalam kisah Anak Bajang Menggiring Angin milik Romo Sindhunata yang menjadi pemeran utama lakon ini, bukan juga Sinta seperti dalam kisah Sinta Obong dari Ardian Kresna, bahkan bukan pula Hanoman. Yang menjadi lakon utama adalah Rahwana, Rahwanan yang tidak mati-mati, juga seperti cintanya yang tak mati-mati.

Rahwana dikisahkan seorang pria yang memiliki panggilan ‘Rahwana’. Nama aslinya sendiri tidak dikisahkan seperti saudara-saudaranya yang lain, Kumbakarna alias Lawwamah, Wibisana alias Mutmainah, Sarpakenaka alias Supiah, dan Amarah. Dan Amarah selalu menganggap sang lakon utama adalah Rahwana. Menurut saya sih, si lakon utama ini bernama Tejo seperti sang penulis sendiri, heuheuheu….

Lakon ini adalah lakon monolog, hanya sudut pandang Rahwana saja yang digunakan untuk berkisah. Kisah Rahwana yang cintanya tak mati-mati kepada Sinta dalam rupa apapun. Dalam rupa seorang wanita modern yang berkeliling dunia memunguti sisa-sisa jaya rayanya budaya sastra di negeri-negeri asal peradaban bermula atau dalam rupa bayi mungil nan menggemaskan. Seperti sang Rahwana yang selalu mencintai Dewi Widowati, atau Dewi Citrawati, atau Dewi Sukasalya, atau anaknya sendiri Sinta. Rahwana selalu mencintainya dalam rupa apapun. Dan Rahwana punya cinta yang tulus yang bahkan dengan kekuatannya, kesaktiannya, dia bisa saja mendapatkan, memaksa Sinta dengan mudah saat menyekap Sinta di Alengka. Tapi Rahwana tidak melakukannya, dia terus menunggu sampai Sinta membalas cintanya. Bahkan Rama tak punya cinta setulus yang Rahwana punya kepada Sinta. Rama meragukannya dengan mengutus Hanoman untuk bukan untuk menyelamatkan Sinta, tapi menanyakan masih sucikah Sinta? Atau saat Rama meminta Sinta terjun ke api untuk membuktikan kesucian cintanya? Lelaki tampan, memiliki kekasih rupawan, tapi insecure?

Rahwana kalah, tapi tidak pernah mati. Tubuhnya hanya terjepit di antara gunung Sondara-Sondari. Rahwana memiliki ajian Pancasona yang membuatnya tidak bisa mati-mati. Cintanya pada Sinta pun tak mati-mati. Lewat gelembung-gelembung udara Rahwana tidak menyebarkan angkara murka, tapi cintanya yang tulus dan suci yang tidak mati-mati kepada Sinta.

Seperti kata Butet Kartaredjasa, novel ini unik dan autentik. Tidak terduga, tapi mengandung kebenaran. Mengejutkan sekaligus menyegarkan. Atau seperti kata mbak Najwa Shihab, nakal dan jenaka. Baca saja supaya Anda tahu seunik dan autentik apa novel ini, atau senakal dan jenaka apakah novel ini.

Selamat membaca semoga cintamu juga seperti Rahwana yang tidak pernah mati-mati.

Cinta Rahwana tak mati-mati

Walaupun raganya dibikin mati

Cintanya tetap tulus dan suci

Menunggu sampai mati

Advertisements