Menguras Emosi: #narasi Antologi Prosa Jurnalisme-Dwifatma dkk

Saya pernah membaca beberapa tulisan di pindai.org, kemudian membaca beberapa twit kalau mereka mengeluarkan buku antologi artikel. Saya langsung membayangkan, paling tidak tulisan-tulisan yang mereka bukukan ini setara dengan yang mereka publikasikan di pindai.org lah ya. Mungkin mengikuti jejak mojok.co yang membukukan beberapa tulisan-tulisan yang pernah mereka publikasikan dalam laman webnya dalam Surat Terbuka kepada Pemilih Jokowi Sedunia.

Tanpa pikir panjang saya memesan buku tersebut melalui Pojok Cerpen. Salah satu yang membuat saya tertarik dengan ini selain pernah membaca pindai.org, saya pernah membaca tulisan dari beberapa penulis dalam buku ini. Buku ini pasti seru. Mungkin juga sekalian bisa membuat saya tampak cerdas beberapa persen.

Buku yang saya beli bulan Februari lalu, baru pertengahan Maret saya mulai membacanya dan itupun sekedar untuk bekal perjalanan acara kampus ke Ketapang, dan awal bulan April saya selesaikan dengan perasaan yang tercabik-cabik (mungkin pengaruh ketidak-seimbangan hormon pra-menstruasi).

Berbagai perasaan tak terkendali saat membaca buku ini. Kadang terlalu sumringah, kadang terlalu sedih sampai menitikan air mata, kadang terlalu marah, bahkan ada ketakutan yang menyusup diam-diam dalam diri. Tapi di lain tulisan rasanya seperti membaca parodi saja, membuat tawa taka da habisnya.

Surat dari Geudong: Panglima, Cuak, dan RBT yang ditulis Chik Rini membuat saya merasakan ketegangan suasana konflik di Aceh. Tak bisa membayangkan bagaimana anak SD kelas 2 dan seorang balita 4 tahun melihat bapaknya mati ditembak di depan batang hidungnya. Saya jadi teringat cerpen Kupu-kupu Bermata Ibu-Azhari, sepertinya Azhari dan Rini mengisahkan kekhilangan yang sama dengan fiksi dan nonfiksi. Tetap saja bagi saya keduanya adalah sadis.

Tulisan Puthut EA (Hikayat Negeri Tembakau) dan Nody Arizona (Mengejar Kere Minggat) tentang tembakau membuat saya sedikit belajar tentang kota tempat saya menetap sekarang, penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Saya sudah pernah membaca tulisan Puhut EA ini dalam bukunya Mengantar dari Luar (mengingatkan saya, bahwa saya belum lunas membaca buku tebal itu, duh).

Jember, sebelumnya tak ada kisah yang melekat dalam ingatan saya selain Dewi Persik dan pesta pernikahan akbar anggota DPR RI komisi X, Anang Hermansyah di kota kelahirannya ini. Apalagi terdengar isu bahwa beliau hendak mencalonkan diri sebagai bupati Jember. Setelah penyataannya Yang terganggu tinggal pindah channel lain saja, saya sungguh-sungguh berharap beliau benar-benar TIDAK mencalonkan diri jadi bupati.

Dan satu lagi yang saya pelajari tentang Jember, Cina. Atau lebih tepatnya Hoakiao dari Jember (Andreas Harsono).  Saat selesai membaca tulisan ini, saya mengumpat. Sialan, saya tertipu oleh Harsono, tertipu mentah-mentah. Saya tak pernah mengira kalau dia sedang menceritakan dirinya sendiri.

Saat kita dalam kelompok minoritas, biasanya kita menjadi orang yang lebih tegar, lebih sabar, bahkan lebih bijaksana. Pengawalan polisi pada mahasiswa asal NTT di Malang menunjukkan bahwa aparat pemerintah/negara yang seharusnya melindungi setiap warga negaranya malah tak bisa memberikan perlindungan. Seperti juga yang dialami warga Syiah di Sampang (‘Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam’-Rusdi Mathari), aparat kalah banyak. Atau saat mereka yang bersenjata lengkap begitu takutnya dengan warga masyarakat yang sebagian besar hanya petani karena tanah garapan warga klaim sebagai tanah mereka (Bara di Urutsewu-Prima Sulistya Wardhani). Sungguh saya tertawa melihat begitu menakutkankah warga sipil itu sampai perlu satuan setingkat peleton Batalyon Infanteri 403/Wirasada Pratista untuk menghalau warga? Kalau boleh saya mengutip bahasa anak masa kini, hedew….lebay deh!

Perempuan selalu saja jadi pihak yang paling dimanfaatkan saat ada konflik atau perang berlangsung. Dua Anak Serdadu (Imam Shofwan) dan Luka dari Saudara Tua (Budi Setiyono). Dada saya sesak membayangkan yang dirasakan ‘sang perempuan’. Hal yang sama saya rasakan saat membaca tulisan Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Sampai sekarang saya belum berhasil menamatkan buku itu.

Dan air mata saya sungguh tak terkendali, keluar begitu saja dari pelupuk mata saat membaca kutipan “Selamat jalan, Wan….” yang tetiba keluar dari mulut Sumarsih (Perempuan Berpayung Hitam-Andina Dwifatma).

Masih ada catatan-catatan seru tentang pertandingan sepak bola, singkong, musik indie, suku Indian, bahkan tentang skizofrenia lainnya. Jadi, selamat membaca.

Advertisements