Bukan Sinetron: Lelaki Harimau-Eka Kurniawan

Saya mendeklarasikan novel-novel Eka Kurniawan sebagai buku kegemaran saya jika ada yang menanyakan buku apa yang jadi kegemaran saya untuk dibaca. Saya rasa, saya juga jatuh cinta pada novel-novel karya Eka Kurniawan. Saya juga sempat membaca kumpulan cerpen Eka Kurniwan, Corat-Coret di Toilet. Tapi saya lebih sreg dengan novelnya saja. Mungkin benar kata Ronal Surapradja di salah satu acara bicang-bincang komedi di televisi, bahwa lelaki itu adalah cerpen dan perempuan itu adalah cerbung. Maka saya lebih senang membaca novel yang panjang kisahnya.

Ketertarikan saya pada Eka Kurniawan dimulai setelah membaca twit dari Arman Dhani tentang buku-buku yang beliau rekomendasikan untuk dibaca tahun 2014. Buku Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus  Dibayar Tuntas menurut Arman Dhani adalah buku penting 2014. Jadilah sewaktu saya berkunjung ke toko buku yang katanya diskon seumur hidup itu, saya melihat nama Eka Kurniwan dengan sampul buku berwarna didominasi jingga dengan gambar burung yang sedang tertidur. Itu dia, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Membaca sinopsisnya dan menurut saya sepertinya seru juga ceritanya. Jadilah saya beli buku itu.

Saya membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas saat perjalanan keluar kota untuk tes kerja keesokan harinya. Bukan membaca bahan untuk persiapan tes kerja, saya malah penasaran menyelesaikan membaca buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Saya terpesona dengan gaya penulisan Eka Kurniawan dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Begitu juga kemudian saya membaca Cinta Itu Luka, sampai cici penjual cat saja juga tergoda untuk membacanya.

Ada yang khas dari gaya penulisan Eka Kurniawan menurut saya, apa adanya. Eka menggunakan kata-kata vulgar dalam kisahnya tapi tidak terkesan saru. Itu lah apa adanya, kata-kata yang dianggap tidak sopan malah digunakannya. Tapi dengan kata-kata yang dianggap tidak sopan itu kisah yang ditulisakan dapat dipahami dengan mudah, nyaman di mata, seperti kata Arman Dhani dalam twittnya yang lalu.

Terakhir dalam perjalanan menuju Papandayan, saya membaca Lelaki Harimau. Saya sudah memiliki buku tersebut setengah tahun lalu dan baru membacanya kemudian. Agak malas sebenarnya membaca Lelaki Harimau ini dikarenakan saya terpengaruh sinetron kekinian yang digandrungi sebagian besar anak-anak Indonesia kala ini. Menganggap mungkin Lelaki Harimau adalah kisah-kisah semacam manusia siluman setengah harimau atau sejenisnya. Tapi ternyata saya salah, novel ini bukan sinetron. Sekali lagi saya menemukan kekhasan Eka Kuriawan di dalamnya. Seru seperti biasanya.

Lelaki harimau adalah kisah bagaimana warisan leluhur akan membela kita seutuhnya untuk melawan hal-hal yang mendukakan kita. Seorang pemuda memiliki warisan dari kakeknya berupa seekor harimau, harimau yang tak kasatmata. Harimau yang memberikannya kekuatan untuk membantunya membahagiakan orang-orang disekelilingnya, ibunya. Tapi kadang harimau itu tak dapat ia kendalikan.

Baca saja, Anda akan tahu bagaimana keseruannya. Dan bagaimana vulgar yang tidak saru itu. Seru dan tidak saru.

Selamat menikmati bukan sinetron harimau, tetapi Lelaki Harimau.

Advertisements