Mamah dan Ilmu Kebatinnya: Endorphin-R.E. Hartanto

_20170131_1255071Kali pertama melihat kemunculannya di media sosial sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Tapi sepertinya alam bawah sadar saya teperdaya oleh kemunculannya yang terus-menerus dan sisipan sketsa gambar yang menarik, penuh warna yang mereka bocorkan. Tapi yang paling mempesona saya adalah postingan Buku Mojok sekitar enam bulan lalu. Sebuah doa pagi, “Tuhan, kalau si dia emang jodohku maka gagalkan pernikahannya pekan depan.” Dengan bagian lembaran buku yang menampilkan sketsa seorang sedang bertelut berdoa, sekuntum bunga kamboja putih, dan seikat dupa yang hampir habis terbakar. Dan akhirnya saya berhasil memiliki buku itu, membacanya tuntas.

Sebenarnya tak banyak yang saya ingat dari buku ini. Ya begitulah jika saya membaca buku, lebih banyak lupanya daripada yang diingat. Itu sebabnya semasa sekolah, kuliah, saya tak terlalu akrab dengan buku. Ada sih yang akrab tetapi lebih akrab di tempat tidur, kadang digunakan sebagai alat hipnotis agar lelap dan segera tidur tapi lebih seringnya sebagai bantal darurat. Keesokan paginya saya akan mengerjakan ujian lebih cepat dibandingkan teman-teman lainnya. Ya tentunya karena saya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Daripada saya lapar kerena belum sarapan dan hawa dingin karena AC kelas membuat tambah lapar, lebih baik segera keluar kelas dan menuju kantin memesan lontong sayur kegemaran warga kampus.

Sebagian yang saya ingat adalah kisah seorang raja yang begitu sayang pada anjingya dan kemudian tingkahnya berubah seperti anjing, menggonggong, cara makan dan minumnya juga seperti anjing, sejak ditinggal mati oleh anjingnya. Di kisah lain diceritakan juga sang raja telah mangkat dan menggonggong di alam arwah mencari anjingnya.

Ada pula kisag seperkawanan yang terdampar di pulau antah-berantah, memperebutkan nasi, mati karena nasi, menyelamatkan diri dan entah apa saya sudah tak ingat lagi.

Ada pula tokoh Sulaiman yang berulang-ulang muncul, tapi yang saya ingat Sulaiman melawan tuan drakula. Kisahnya terlalu absurd buat saya. Tak hanya kisah tentang Sulaiman yang absurd, tapi juga kisah-kisah lainnya.

Suatu kali masa orientasi kampus, saya kebagian satu kelas kemudian saya memberikan buku Endorphin ini kepada salah seorang mahasiswa baru, kerena kreatifnya dia membuat kisah.

Natal lalu, mamah datang. Tapi tidak bisa maksimal menemani. Kampus saya mengadakan pelatihan, pelatihan saat semua orang masih merayakakn Natal, dan cuti bersama nasioanal, saya masih di kampus mengikuti pelatihan dari pagi jam 8 sampai jam 11 malam, luar biasa. Mamah tak ada kegiatan, tak ada hiburan, tak ada TV di rumah. Hanya buku-buku bertumpuk tak jelas.

Mamah bukan tipe pembaca, sebetulnya tak ada satupun di keluarga kami yang senang membaca. Tapi karena tidak ada kerjaan menunggu di rumah maka membacalah mamah. Buku yang dipilihnya adalah Endorphin. Saya tak menyadari kalau mamah membaca, saya baru sadar setelah hari ketiga tahu setelah pelatihan berakhir mamah bercerita tentang betapa hebatnya Sulaiman lulusan S2 Ilmu Kebatinan, bisa menghilang pula katanya.

Saya tertawa mendengar cerita mamah, bukan karena cerita yang dia ceritakan tentang Sulaiman adalah kisah yang lucu tapi karena ilmu kebatinan yang dikisahkannya. Kami di rumah sering menggoda mamah punya ilmu kebatinan karena dia hanya diam saja, membatin tapi berharap kami semua tahu apa yang ada dalam batinnya, dalam pikirannya. Mamah memiliki ilmu kebatinan tapi kami semua di rumah tidak memilikinya. Maka itu saya kemudian tertawa keras, tak tahan menahan rasa menggelitik.

Mungkin memang mamah memiliki ilmu kebatinan, buktinya mamah bisa memilih dengan tepat bacaan yang tepat kemudian bertemu dengan Sulaiman. Jangan-jangan Sulaiman juga yang sebenarnya mengirimkan ilmu kebatinannya sehingga akhirnya saya bertekat kuat memilikinya kemudian membacanya?

Buat yang telah membaca Endorphin, mungkin kalian berbakat dalam ilmu kebatinan dan bisa melanjutkan program S2 Ilmu kebatinan. Buat yang belum membaca Endorphin mungkin kalian harus latihan kebatinan dulu sampai akhirnya kalian bisa merasakan panggilan dari Sulaiman.

Advertisements

Cinta yang Tak Mati-Mati: Rahvayana Aku Lala Padamu-Sujiwo Tejo

IMG_20160624_220259[1]IMG_20160624_220747[1]

Novel Sujiwo Tejo ini adalah sebuah saduran lakon kisah cinta yang tragis yang melegenda dari anak benua sampai ke nusantara, Ramayana. Tapi bukanlah Rama seperti kisah dalam kisah Anak Bajang Menggiring Angin milik Romo Sindhunata yang menjadi pemeran utama lakon ini, bukan juga Sinta seperti dalam kisah Sinta Obong dari Ardian Kresna, bahkan bukan pula Hanoman. Yang menjadi lakon utama adalah Rahwana, Rahwanan yang tidak mati-mati, juga seperti cintanya yang tak mati-mati.

Rahwana dikisahkan seorang pria yang memiliki panggilan ‘Rahwana’. Nama aslinya sendiri tidak dikisahkan seperti saudara-saudaranya yang lain, Kumbakarna alias Lawwamah, Wibisana alias Mutmainah, Sarpakenaka alias Supiah, dan Amarah. Dan Amarah selalu menganggap sang lakon utama adalah Rahwana. Menurut saya sih, si lakon utama ini bernama Tejo seperti sang penulis sendiri, heuheuheu….

Lakon ini adalah lakon monolog, hanya sudut pandang Rahwana saja yang digunakan untuk berkisah. Kisah Rahwana yang cintanya tak mati-mati kepada Sinta dalam rupa apapun. Dalam rupa seorang wanita modern yang berkeliling dunia memunguti sisa-sisa jaya rayanya budaya sastra di negeri-negeri asal peradaban bermula atau dalam rupa bayi mungil nan menggemaskan. Seperti sang Rahwana yang selalu mencintai Dewi Widowati, atau Dewi Citrawati, atau Dewi Sukasalya, atau anaknya sendiri Sinta. Rahwana selalu mencintainya dalam rupa apapun. Dan Rahwana punya cinta yang tulus yang bahkan dengan kekuatannya, kesaktiannya, dia bisa saja mendapatkan, memaksa Sinta dengan mudah saat menyekap Sinta di Alengka. Tapi Rahwana tidak melakukannya, dia terus menunggu sampai Sinta membalas cintanya. Bahkan Rama tak punya cinta setulus yang Rahwana punya kepada Sinta. Rama meragukannya dengan mengutus Hanoman untuk bukan untuk menyelamatkan Sinta, tapi menanyakan masih sucikah Sinta? Atau saat Rama meminta Sinta terjun ke api untuk membuktikan kesucian cintanya? Lelaki tampan, memiliki kekasih rupawan, tapi insecure?

Rahwana kalah, tapi tidak pernah mati. Tubuhnya hanya terjepit di antara gunung Sondara-Sondari. Rahwana memiliki ajian Pancasona yang membuatnya tidak bisa mati-mati. Cintanya pada Sinta pun tak mati-mati. Lewat gelembung-gelembung udara Rahwana tidak menyebarkan angkara murka, tapi cintanya yang tulus dan suci yang tidak mati-mati kepada Sinta.

Seperti kata Butet Kartaredjasa, novel ini unik dan autentik. Tidak terduga, tapi mengandung kebenaran. Mengejutkan sekaligus menyegarkan. Atau seperti kata mbak Najwa Shihab, nakal dan jenaka. Baca saja supaya Anda tahu seunik dan autentik apa novel ini, atau senakal dan jenaka apakah novel ini.

Selamat membaca semoga cintamu juga seperti Rahwana yang tidak pernah mati-mati.

Cinta Rahwana tak mati-mati

Walaupun raganya dibikin mati

Cintanya tetap tulus dan suci

Menunggu sampai mati

Kisah-Kisah Yang Muram: Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi-Azhari

Akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan membaca kumpulan cerpen milik Azhari. Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 134 halaman ini.

Kumpulan cerita pendek yang diterbitkan ulang oleh Buku Mojok ini, menurut saya adalah kisah-kisah yang muram. Kisah-kisah sedih mereka yang merindu, ditinggalkan, merindu, berharap, yang tak pernah jelas sampai kapan.

Selain kisah yang muram, kumpulan cerita pendek ini merupakan kiah yang sulit dimengerti. Untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek saja saya memerlukan banyak hari. Kadang hanya sempat membaca satu penggalan alenia saja. Kadang saya membaca ulang karena sungguh saya gagal memahami maksud cerita atau saya melupakan tokoh yang ada dalam cerita.

Pengantar yang diberikan oleh Prof. James T. Siegel kemudian membuat saya menyimpulkan pada akhirnya, pantas saja cerita-cerita Azhari adalah cerita yang muram. Cerita-cerita pendek ini merupakan kumpulan kisah-kisah dari era “konflik” di Aceh. Kata beliau, “lewat cerita-cerita fiksi Azhari ini, kita merasakan satu keadaan yang jarang diungkapkan dan tak pelak lagi berasal dari pengalaman terdekat selama periode mengerikan di ujung barat kepulauan Indonesia”. Jadi wajar saja kan jika saya katakana kalau kisah-kisah ini kisah yang muram?

Anda ingin tahu seberapa suram kisah-kisah ini. Sungguh saya tak bisa menggambarkannya, hanya ada hati yang kadang sedih, takut, dan sedikit gelisah saat membacanya. Berharap bahwa cerita pendek yang saya baca benar-benar sebuah fiksi belaka. Tak bisa saya bayangkan alangkah mengerikannya jika cerita itu adalah kisah nyata.

Akhir pekan berakhir kelabu

Karena awan tak tahan membendung rindu

Hujan yang datang membuat hati kelu

Menambah muram hati nan sendu

Kita Adalah Apa Yang Kita Baca: The Naked Traveler-Trinity

If we are what we read, then we are never enough-M Aan Mansyur

Jika kita adalah apa yang kita baca, maka kita tidak akan pernah cukup. Begitu kira-kira terjemahan bebas saya dari status Twitter M Aan Mansyur. Dan benar lah adanya, setidaknya untuk saya.

Membaca itu biasanya dipasangkan dengan menulis. Bahkan pelajaran pertama saat saya di sekolah dasar adalah baca-tulis. Dan itu juga yang terjadi pada gaya penulisan dalam halaman ini juga. Bandingkan tulisan saya Belajar Berbahasa Indonesia (lagi): Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek-Mochtar Lubis dengan tulisan Pelesir saya. Tentu saja saya membaca buku Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek karya Mochtar Lubis, maka kemudian saya dapat menulis ulasan buku tersebut.

Saat menulis Bermula dari Bogor dan 8 Tahun Lagi, kebetulan saya sedang membaca buku Trinity-The Naked Traveler. Dan saya terbawa, bukan kebetulan (karena tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah kode) pula yang saya tuliskan tentang pelesiran sama seperti apa yang saya baca.

Saya membeli paket buku The Naked Traveler yang berisi empat buku. Karena harga paketan, saya mendapat tambahan potongan harga masing-masing 5% untuk masing-masing buku, lumayan lebih irit.

The Naked Traveler menurut saya merupakan bacaan ringan. Saya menyelesaikan keempat buku tersebut hanya dalam empat hari. Itu adalah rekor membaca tercepat saya dalam keadaan santai, bukan dalam keadaan stress atau dalam perjalanan. Karena anehnya jika saya sedang stress (biasanya karena ada tenggat mendesak) atau sedang dalam perjalan kecepatan membaca saya meningkat pesat.

Buku berwarna kuning ngejreng terbitan B First ini menceritakan pengalaman pelisiran Trinity sejak tahun 1990an sampai tahun 2012. Buku ini tidak menceritakan bagaimana Trinity melakukan setiap perjalanannya, tetapi mengelompokan beberapa kisah dalam perjalanannya berdasarkan kejadian-kejadian yang serupa. Misalkan kejadian-kejadian yang dialami Trinity di bandar udara dalam ‘Airport’, Indonesiana’ yang menceritakan beberapa liburan di Indonesia timur, atau rasa sedih dan haru bahkan sedikit kesal dalam ‘Hiks!’, juga tempat-tempat yang bisa jadi bonus kita datangi untuk ‘Jalan-Jalan Murah’.

Menyenangkan membaca buku ini, selain ringan dan tidak membuat saya berpikir keras dalam membacanya, muncul juga perasaan sedih, haru, bangga, dan kadang bisa dibuat tertawa saya membaca buku ini.

Akan jadi referensi yang bagus dan menyenangkan tentunya bagi yang menyukai pelesiran tentunya. Buku ini menyenangkan, seperti saya. Walaupun dalam buku ini tidak hanya pengalaman menyenangkan saja. Tapi seperti juga dalam kehidupan nyata mungkin mba Trinity mau mengajarkan kita, saya bahwa hidup itu perjalanan yang menyenangkan kadang mengesalkan, tapi pasti akan menyenangkan mengingat semuanya dengan cara yang menyenangkan. Membaca ditemani lagu kesukaan atau secangkir kopi, mungkin.

Ah, terlalu banyak kemungkinan. Nikmati saja dan baca lagi.

Salam.

Belajar Berbahasa Indonesia (lagi): Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek-Mochtar Lubis

Tulisan ini saya buat berdasarkan permintaan teman yang tak tahu harus memilih apa dari pilihan yang saya berikan. Saya menanyakan kepada seorang kawan, tulisan yang akan saya buat pertama kali di laman ini. Pilihan yang saya berikan adalah Cerita Buat Para Kekasih-Agus Noor; Perempuan-Mochtar Lubis; The Perks of Being a Wallflower-Stephen Chbosky; atau Api Di Dalam-KarnaTra. Dan kawan saya itu memilih Perempuan, katanya karena dia juga perempuan (padahal karena dia tidak tahu pilihan yang saya berikan).

Buku ini enak dibaca di mana saja, bentuknya yang mungil (11x17cm) membuatnya gampang dibawa ke mana saja, disakupun bisa masuk. Tampilannya sederhana, sesederhana cerita yang diceritakan di dalamnya. Sampul depan buku ini merupakan lukisan karya pak Lubis sendiri. Buku ini merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2010. Edisi pertamanya diterbitakan oleh Timun Mas Jakarta tahun 1956.

Membaca kumpulan cerita pendek ini sebenarnya membuat saya malu dengan perilaku berbahasa Indonesia saya sehari-hari. Saya hanya (berusaha) menggunakan bahasa Indonesia saat mengerjakan tugas kampus dan surat lamaran kerja dan keperluan resmi lainnya. Dalam kumpulan cerita pendek ini, pak Lubis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam semua ceritanya, atau memang belum ada bahasa prokem gaul yang sedang ngetren pada tahun 50an. Tidak seperti saat ini, tulisan-tulisan fiksi hadir dengan bahasa yang sering kita dengar di berbagai media.

Cerita yang disampaikan tentu saja berlatar belakang masa tahun 50an dan menurut saya masih relevan pada masa kini. Cerita yang sangat berkesan buat saya adalah Tabrakan, karena saya pernah melihat cerita yang serupa dalam kehidupan nyata. Bagaimana mungkin pemilik mobil yang mahal meminta ganti rugi pada tukang becak yang menabraknya. Dalam Perempuan kita memahami sudut pandang penulis, bahwa perempuan bisa menyimpan apa saja dalam hatinya. Atau pelajaran moral yang diambil dari pemilik Kebun Pohon Kastanye, bahwa dengan menympan semuanya sendiri belum tentu kita tak akan kehilangan semuanya itu. Atau bagaimana rupa fisik atau kemahiran dalam berkomunikasi dapat memperdaya dengan kita mudah seperti dalam kisah Untuk Perikemanusian dan Si Djamal Anak Merdeka. Dalam satu hisapan rokok pun, kita diajak merenung, bahwa susah-senang itu bisa berganti begitu saja dalam kehidupan.

Tapi saya benar-benar terhibur oleh Pak Siman dan Bini-Bininya, entah ini mengisahkan sesuatu yang lugu atau konyol atau keduanya sekaligus. Saya menikmatinya dan semoga kemampuan berbahasa Indonesia saya menjadi semakin baik.

Tabik.