Jadi Pendukung Jokowi yang Sesungguhnya: Dari Twitwar Ke Twitwar-Arman Dhani

Suatu kali sebelum pemilihan presiden 2014 lalu saya membaca status entah siapa di salah satu media sosial. “Kalau kamu tidak ikut memilih, kamu tidak berhak mengomentari atau protes dengan baik buruk apapun yang dilakukan pemerintah nanti. Kalau kamu memilih dan pilihanmu kalah di pemilihan nanti adalah hakmu untuk mengomentari atau protes dengan baik buruknya kinerja pemerintah. Tapi kalau kamu memilih dan pilihanmu menang maka kamu wajib mengomentari, protes, atau mengkritisi jalannya pemerintahan nanti.” Ya, memang hak kita sebagai pemilih dan pendukung Jokowi untuk selalu mengingatkan beliau jika beliau salah jalan atau melenceng dari janji-janjinya atau melukai hati negara tercinta ini.

Awal tahun ini saya menyelesaikan membaca buku Arman Dhani, Dari Twitwar Ke Twitwar dalam waktu kurang dari seminggu. Buku mas Dhani (sok akrab banget deh saya ini manggil mas) ini berisi kumpulan artikel-artikel beliau yang pernah dipublikasikan ke beberapa media daring. Tulisan-tulisan satir mungkin memang merupakan khas beliau. Membaca buku ini membuat saya berpikir ulang saat ingin mendukung atau tidak pada suatu keadaan. Mungkin kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda, atau kita perlu klarifikasi terlebih dahulu dari mereka yang kita jadikan tertuduh.

Tulisan-tulisan mas Dhani juga kadang membuat saya iri, bisakah saya menulis seperti beliau ini. Kadang saat menulis sesuatu saya sering mengabaikan fakta dan memunculkan prasangka saya sendiri pada tulisan saya. Saya menggiring opini pembaca agar sependapat dengan saya. Tapi mas Dhani malah mengulas satu persatu kesalahan presiden terpilih Jokowi meskipun semua orang tahu kalau mas Dhani adalah penndukung Jokowi garis keras. Betapa berat buat saya menjelek-jelekan apa yang saya bela, apa yang saya dukung, walaupun saya sering kali tahu bahwa apa yang saya bela, apa yang saya dukung juga kada mengecewakan.

Tulisan-tulisan mas Dhani mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda pada setiap keadaan, kejadian. Sering kali sudut pandang inilah yang kita abaikan sebelum kita memutuskan. Mas Dhani juga mengajak kita untuk jujur, jujur berpendapat namun berdasarkan fakta. Bukannya hanya menjadi seorang fanatik mati.

Mungkin saya harus banyak belajar dari mas Dhani. Menulis dengan netral tanpa baper prasangka tapi mengutamakan fakta. Mendukung dengan jujur, menyatakan salah saat bersalah dan memberikan pujian saat pencapaian didapat.

Sudut pandang berbeda membuat kita belajar bahwa kebenaran itu bukan hanya hitam dan putih dan juga tidak hanya kita saja yang bisa menentukan hitam dan putih itu. Kebenaran ini adalah kesepakatan, entah hitam entah putih yang penting semua senang.