Masa Kanak-Kanak Yang Menyenangkan: Aku, Meps, dan Beps (Soca Sobhita & Reda Gaudiamo) – Na Willa (Reda Gaudiamo)

WhatsApp Image 2017-07-04 at 12.37.58 PMSatu kata yang dapat menggambarkan buku Aku, Meps, dan Beps (Soca Sobhita & Reda Gaudiamo) dan Na Willa (Reda Gaudiamo), menyenangkan. Membaca kedua buku tersebut sangat menyenangkan, membuat senyum saya diam-diam merekah mengingat masa kecil saya. Aku pada Aku, Meps dan Beps, juga Na Willa punya kisah-kisah sederhana semasa kanak-kanaknya, diceritakan dengan cara yang sederhana. Tapi kesederhanaan itulah yang membuat kisah mereka menyenangkan untuk dibaca, sederhana yang menyenangkan.

Saya memajang foto yang sama untuk beberapa akun media social yang berbeda, foto saya sedang berada di sebuah took buku di Yogyakarta, membaca buku. Buku yang saya di foto itu adalah Aku, Meps, dan Beps. Saya mengetahui buku Aku, Meps, dan Beps dari unggahan akun Instagram Post Santa, yang membuatnya menarik karena salah satu penulisanya adalah salah satu penyanyi idola kawan saya yang kebetulan saat itu akan saya temui di toko buku itu, ya dia lah yang mengambil foto itu.

Salah satu yang diceritakan Aku tentang Beps adalah kalau buat telor mata sapi, bisa kriyes di bagian pinggirnya. Sorenya saya membuat indomie goreng tak lupa dengan telor mata sapi yang kriyes bagian pinggirnya, sungguh menyenangkan.

Ada dua judul Radio di kisah Na Willa, yang membuat saya mengingat masa kanak-kanak saya dengan radio juga. Saya tentu saja punya kisah dengan radio yang berbeda dengan Na Willa. Semasa kanak-kanak keluarga saya tinggal di rumah dinas yang adalah barak-barak rumah. Sayangnya kami tidak tinggal dibarak itu melainkan di suatu ruang bagian ujung gudang kantor Dinas Kesahatan. Gudang kantor Dinas Kesehatan, bayangkan lah barang apa saja yang kira-kira disimpan di sana, aroma antiseptik dan sejenisnya kadang menyeruak sampai masuk ke rumah. Semasa itu, saya tidak memiliki kawan di sekitar rumah. Yang ada hanya sebuah radio yang hanya menyiarkan siaran RRI saja. Suatu kali saya duduk di bangku kayu di depan rumah di bawah pohon rambutan yang rindang namun tak pernah kunjung berbuah. Semangkuk es gong di pangkuan saya, dan radio memperdengarkan suara lelaki menceritakan entah apa dengan gaya Bahasa yang serius. Sambal menyuap sesendok es gong, kemudian saya memalingkan wajah ke radio itu dan bertanya, “eh, gak capek kah ngomong terus, nih aku kasih es”. Lalu saya menyupkan sesendok es ke radio di samping saya, ke lubang-lubang logam kecil yang merupakan sumber suara lelaki itu keluar. Lamat-lamat suara lelaki itu menghilang. Dan saya tak pernah mendengar suara apapun lagi dari radio itu.

Saya juga pernah berlaku seperti Na Willa, saya bisa menangis sekencang-kencangnya, berteriak-teriak sekeras yang saya bisa lakukan. Saya pernah diikat oleh Bapak di pohon mangga di depan rumah, pohon mangga itu banya semut rangrangnya. Katanya saya nakal, minta pisang goreng sudah dibelikan malah gak dimakan. Pernah lagi saya diikat dengan posisi memeluk guling entah kesalahan apa yang saya lakukan, yang saya ingat saya nangis teriak-teriak sambal guling-guling di lantai.

Kebengalan yang jika diingat-ingat lagi jadi menyenangkan kan? Seperti Aku dan juga Na Willa tentu saja. Bacaan sederhana yang menyenangkan.

Advertisements

Mamah dan Ilmu Kebatinnya: Endorphin-R.E. Hartanto

_20170131_1255071Kali pertama melihat kemunculannya di media sosial sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Tapi sepertinya alam bawah sadar saya teperdaya oleh kemunculannya yang terus-menerus dan sisipan sketsa gambar yang menarik, penuh warna yang mereka bocorkan. Tapi yang paling mempesona saya adalah postingan Buku Mojok sekitar enam bulan lalu. Sebuah doa pagi, “Tuhan, kalau si dia emang jodohku maka gagalkan pernikahannya pekan depan.” Dengan bagian lembaran buku yang menampilkan sketsa seorang sedang bertelut berdoa, sekuntum bunga kamboja putih, dan seikat dupa yang hampir habis terbakar. Dan akhirnya saya berhasil memiliki buku itu, membacanya tuntas.

Sebenarnya tak banyak yang saya ingat dari buku ini. Ya begitulah jika saya membaca buku, lebih banyak lupanya daripada yang diingat. Itu sebabnya semasa sekolah, kuliah, saya tak terlalu akrab dengan buku. Ada sih yang akrab tetapi lebih akrab di tempat tidur, kadang digunakan sebagai alat hipnotis agar lelap dan segera tidur tapi lebih seringnya sebagai bantal darurat. Keesokan paginya saya akan mengerjakan ujian lebih cepat dibandingkan teman-teman lainnya. Ya tentunya karena saya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Daripada saya lapar kerena belum sarapan dan hawa dingin karena AC kelas membuat tambah lapar, lebih baik segera keluar kelas dan menuju kantin memesan lontong sayur kegemaran warga kampus.

Sebagian yang saya ingat adalah kisah seorang raja yang begitu sayang pada anjingya dan kemudian tingkahnya berubah seperti anjing, menggonggong, cara makan dan minumnya juga seperti anjing, sejak ditinggal mati oleh anjingnya. Di kisah lain diceritakan juga sang raja telah mangkat dan menggonggong di alam arwah mencari anjingnya.

Ada pula kisag seperkawanan yang terdampar di pulau antah-berantah, memperebutkan nasi, mati karena nasi, menyelamatkan diri dan entah apa saya sudah tak ingat lagi.

Ada pula tokoh Sulaiman yang berulang-ulang muncul, tapi yang saya ingat Sulaiman melawan tuan drakula. Kisahnya terlalu absurd buat saya. Tak hanya kisah tentang Sulaiman yang absurd, tapi juga kisah-kisah lainnya.

Suatu kali masa orientasi kampus, saya kebagian satu kelas kemudian saya memberikan buku Endorphin ini kepada salah seorang mahasiswa baru, kerena kreatifnya dia membuat kisah.

Natal lalu, mamah datang. Tapi tidak bisa maksimal menemani. Kampus saya mengadakan pelatihan, pelatihan saat semua orang masih merayakakn Natal, dan cuti bersama nasioanal, saya masih di kampus mengikuti pelatihan dari pagi jam 8 sampai jam 11 malam, luar biasa. Mamah tak ada kegiatan, tak ada hiburan, tak ada TV di rumah. Hanya buku-buku bertumpuk tak jelas.

Mamah bukan tipe pembaca, sebetulnya tak ada satupun di keluarga kami yang senang membaca. Tapi karena tidak ada kerjaan menunggu di rumah maka membacalah mamah. Buku yang dipilihnya adalah Endorphin. Saya tak menyadari kalau mamah membaca, saya baru sadar setelah hari ketiga tahu setelah pelatihan berakhir mamah bercerita tentang betapa hebatnya Sulaiman lulusan S2 Ilmu Kebatinan, bisa menghilang pula katanya.

Saya tertawa mendengar cerita mamah, bukan karena cerita yang dia ceritakan tentang Sulaiman adalah kisah yang lucu tapi karena ilmu kebatinan yang dikisahkannya. Kami di rumah sering menggoda mamah punya ilmu kebatinan karena dia hanya diam saja, membatin tapi berharap kami semua tahu apa yang ada dalam batinnya, dalam pikirannya. Mamah memiliki ilmu kebatinan tapi kami semua di rumah tidak memilikinya. Maka itu saya kemudian tertawa keras, tak tahan menahan rasa menggelitik.

Mungkin memang mamah memiliki ilmu kebatinan, buktinya mamah bisa memilih dengan tepat bacaan yang tepat kemudian bertemu dengan Sulaiman. Jangan-jangan Sulaiman juga yang sebenarnya mengirimkan ilmu kebatinannya sehingga akhirnya saya bertekat kuat memilikinya kemudian membacanya?

Buat yang telah membaca Endorphin, mungkin kalian berbakat dalam ilmu kebatinan dan bisa melanjutkan program S2 Ilmu kebatinan. Buat yang belum membaca Endorphin mungkin kalian harus latihan kebatinan dulu sampai akhirnya kalian bisa merasakan panggilan dari Sulaiman.

Jadi Pendukung Jokowi yang Sesungguhnya: Dari Twitwar Ke Twitwar-Arman Dhani

Suatu kali sebelum pemilihan presiden 2014 lalu saya membaca status entah siapa di salah satu media sosial. “Kalau kamu tidak ikut memilih, kamu tidak berhak mengomentari atau protes dengan baik buruk apapun yang dilakukan pemerintah nanti. Kalau kamu memilih dan pilihanmu kalah di pemilihan nanti adalah hakmu untuk mengomentari atau protes dengan baik buruknya kinerja pemerintah. Tapi kalau kamu memilih dan pilihanmu menang maka kamu wajib mengomentari, protes, atau mengkritisi jalannya pemerintahan nanti.” Ya, memang hak kita sebagai pemilih dan pendukung Jokowi untuk selalu mengingatkan beliau jika beliau salah jalan atau melenceng dari janji-janjinya atau melukai hati negara tercinta ini.

Awal tahun ini saya menyelesaikan membaca buku Arman Dhani, Dari Twitwar Ke Twitwar dalam waktu kurang dari seminggu. Buku mas Dhani (sok akrab banget deh saya ini manggil mas) ini berisi kumpulan artikel-artikel beliau yang pernah dipublikasikan ke beberapa media daring. Tulisan-tulisan satir mungkin memang merupakan khas beliau. Membaca buku ini membuat saya berpikir ulang saat ingin mendukung atau tidak pada suatu keadaan. Mungkin kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda, atau kita perlu klarifikasi terlebih dahulu dari mereka yang kita jadikan tertuduh.

Tulisan-tulisan mas Dhani juga kadang membuat saya iri, bisakah saya menulis seperti beliau ini. Kadang saat menulis sesuatu saya sering mengabaikan fakta dan memunculkan prasangka saya sendiri pada tulisan saya. Saya menggiring opini pembaca agar sependapat dengan saya. Tapi mas Dhani malah mengulas satu persatu kesalahan presiden terpilih Jokowi meskipun semua orang tahu kalau mas Dhani adalah penndukung Jokowi garis keras. Betapa berat buat saya menjelek-jelekan apa yang saya bela, apa yang saya dukung, walaupun saya sering kali tahu bahwa apa yang saya bela, apa yang saya dukung juga kada mengecewakan.

Tulisan-tulisan mas Dhani mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda pada setiap keadaan, kejadian. Sering kali sudut pandang inilah yang kita abaikan sebelum kita memutuskan. Mas Dhani juga mengajak kita untuk jujur, jujur berpendapat namun berdasarkan fakta. Bukannya hanya menjadi seorang fanatik mati.

Mungkin saya harus banyak belajar dari mas Dhani. Menulis dengan netral tanpa baper prasangka tapi mengutamakan fakta. Mendukung dengan jujur, menyatakan salah saat bersalah dan memberikan pujian saat pencapaian didapat.

Sudut pandang berbeda membuat kita belajar bahwa kebenaran itu bukan hanya hitam dan putih dan juga tidak hanya kita saja yang bisa menentukan hitam dan putih itu. Kebenaran ini adalah kesepakatan, entah hitam entah putih yang penting semua senang.