Kisah-Kisah Yang Muram: Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi-Azhari

Akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan membaca kumpulan cerpen milik Azhari. Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 134 halaman ini.

Kumpulan cerita pendek yang diterbitkan ulang oleh Buku Mojok ini, menurut saya adalah kisah-kisah yang muram. Kisah-kisah sedih mereka yang merindu, ditinggalkan, merindu, berharap, yang tak pernah jelas sampai kapan.

Selain kisah yang muram, kumpulan cerita pendek ini merupakan kiah yang sulit dimengerti. Untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek saja saya memerlukan banyak hari. Kadang hanya sempat membaca satu penggalan alenia saja. Kadang saya membaca ulang karena sungguh saya gagal memahami maksud cerita atau saya melupakan tokoh yang ada dalam cerita.

Pengantar yang diberikan oleh Prof. James T. Siegel kemudian membuat saya menyimpulkan pada akhirnya, pantas saja cerita-cerita Azhari adalah cerita yang muram. Cerita-cerita pendek ini merupakan kumpulan kisah-kisah dari era “konflik” di Aceh. Kata beliau, “lewat cerita-cerita fiksi Azhari ini, kita merasakan satu keadaan yang jarang diungkapkan dan tak pelak lagi berasal dari pengalaman terdekat selama periode mengerikan di ujung barat kepulauan Indonesia”. Jadi wajar saja kan jika saya katakana kalau kisah-kisah ini kisah yang muram?

Anda ingin tahu seberapa suram kisah-kisah ini. Sungguh saya tak bisa menggambarkannya, hanya ada hati yang kadang sedih, takut, dan sedikit gelisah saat membacanya. Berharap bahwa cerita pendek yang saya baca benar-benar sebuah fiksi belaka. Tak bisa saya bayangkan alangkah mengerikannya jika cerita itu adalah kisah nyata.

Akhir pekan berakhir kelabu

Karena awan tak tahan membendung rindu

Hujan yang datang membuat hati kelu

Menambah muram hati nan sendu