Manusia Pemakan Ikan: Belida Bakar Sambal Dabu-Dabu

Bagi yang tinggal di Kalimantan, adalah biasa jika sumber protein utamanya adalah ikan, terutama ikan air tawar. Terlalu banyak sungai malang melintang di pulau Kalimantan yang katanya masih di dominasi hutan, rawa, dan sungai tentunya.

Palangkaraya, kota terlembab yang pernah saya tahu. Saya bahkan tidak memerlukan lotion untuk membalut kulit setelah mandi, kecuali setelah berenang lebh dari satu jam. Di kota Palangkaraya sumber protein utamanya adalah ikan air tawar. Akan sangat menemukan ikan air tawar di pasar-pasar tapi memerlukan usaha ekstra untuk mencari ikan air asin di pasar-pasar di kota Palangkaraya. Tak seperti kota-kota di Jawa tentunya.

Selama berkuliah di Yogyakarta, saya selalu rindu untuk mengkonsumsi ikan yang sepertinya bukan jadi kegemaran masyarakat lokal. Bahkan kawan saya bercoloteh, “orang Kalimantan adalah manusia pemakan ikan.”

Suatu sore saya menemani ibu berbelanja di pasar tradisional yang hari pasarnya adalah hari rabu dan minggu itupun hanya buka sore sampai malam hari. Dan lokasinya bukan lah seperti pasar pada umumnya, lokasinya adalah jalan jalur ganda yang dipisahkan jalur hijau yang merupakan jalan masuk komplek permukiman.

Ibu saya membeli ikan Belida, ikan yang agak susah mengeksekusinya karena hampir setengah dari keseluruhan badan ikan dipenuhi duri dan kurang nyaman menikmatinya. Sebenarnya ikan Belida adalah ikan yang secara rasa termasuk ikan kegemaran saya. Karena berduri namun gurih itu pula biasanya ikan Belida diolah menjadi baso ikan atau bahkan kerupuk. Kawan saya yang berdomisili di Jambi pernah menceritakan kalau ibunya biasa mengolah ikan Belida menjadi mpek-mpek. Karena ikan Belida jarang sudah ditemukan di pasar makan digunakanlah ikan Tenggiri sebagai gantinya.

Ibu saya membumbui ikan Belidanya dengan perasan jeruk nipis, garam, bawang putih, kunyit, dan jahe sebelum membiarkannya beku di lemari es. Saya kemudian menambahkan perasan jeruk nipis, minyak sawit, dan sedikit kecap manis kemudian membakarnya di peamanggang anti lengket.

Ikan bakar tentunya kurang nikmat tanpa sambal. Jadilah saya merajang bawang merah, tomat, cabe rawit, dan bunga kecombrang. Saya campurkan dengan sedikit garam dan perasan jeruk nipis kemudian.

Makan malam yang menyenangkan dan membuat saya bersemangat kemudian.

11053182_10204842837492801_7859038225338020012_n

Ayo makan-makan enak

Jangan terlalu sering arik

Biar bahagia sejenak

Supaya tak jadi pelak

Kisah Masa Lalu: Constellation-Stars And Rabbit

20150809_114647[1]

Sore ini saya menikmati lelagu dari pemutar lagu di telepon seluler saya. Beberapa lagu yang membuat saya melakukan perjalanan ke masa lalu. Karena sebagian besar lagu yang saya dengar pernah saya dengarkan di masa lalu dan menyimpan beberapa kisah masa lalu.

Stars And Rabbit tahun ini (2015) merilis album Constellation, dan lagu mereka lah yang saya dengarkan sore ini. Santai sore dengan lagu kenangan di tepi kolam, syahdu.

Saya memutar dengan acak lagu di album Constellation. Lagu yang saya dengar pertama kali adalah Man Upon The Hill dan lagu ini langsung membawa saya ke masa lalu.

*

Pertama kali mendengar Stars And Rabbit dari kawan yang adalah pendengar musik independen Akan ada konser dari Stars And Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes And The Couples Company di Teater Garasi, Yogyakarta dalam Konser Suara 7 Nada 7 Maret 2013 lalu. Sepertinya kawan saya itu (yang katanya juga tak begitu mengenal Stars And Rabbit) sedang mempersiapkan diri agar maksimal nantinya menikmati konser tersebut mungkin sambil sedikit menguliahi saya, “ini salah satu yang akan tampil di konser yang akan kita tonton nanti.” Dan lagu kesukaannya saat itu adalah Rabbit Run yang sayangnya tidak dibawakan saat konser berlangsung. Mungkin kawan saya itu masih menyimpan daftar lagu yang dimainkan saat konser tersebut. Saat menonton Stars And Rabbit dalam konser tersebut seperti telinga saya ditipu oleh pemutar lagu dari komputer jinjing kawan yang menguliahi saya tadi. Stars And Rabbit jauh lebih memukau saat ditonton langsung.

Suatu kali saya mengantar kawan saya piknik, dan akhir piknik malam itu adalah pasar Ngasem. Saat itu sedang ada festival kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke 26. Saya melihat jadwal panggung mereka dan berhasil menemukan nama Stars And Rabbit akan tampil di akhir minggu. Dengan niat dan semangat 45 saya berhasil nodong kawan saya menemani saya menyaksikan Stars And Rabbit sekali lagi. Tampilan mereka malam itu seperti biasanya selalu memukau terutama saat mereka mengakhiri tampilan mereka dengan Man Upon The Hill. Saya ikut berdiri bertepuk tangan selain memang tampilan mereka memukau sebenarnya saya lebih ingin menyeka air mata supaya kawan saya disebelah tak perlu tahu kalau the man upon the hill saya telah menemukan rumah yang baru dan sayangnya saya belum seharusnya bahagia. Malam itu kedua kalinya saya menikmati penampilan Stars And Rabbit dan kedua kalinya saya mendengar perkataan mba Elda sang vokalis, “tak pernah saya patah hati sejelas ini.”

*

Lagu Cry Little Heart kemudian menyusul lagu sebelumnya. Sialnya saya terbawa suasana untungnya tak sampai menangis lagi. Seperti diingatkan untuk menenangkan hati yang sedang duka, memejamkan mata, mendengarkan hembusan angin. Sungguh andai saja kolam yang ada di depan saya ini bukan kolam ikan tetapi kolam renang, mungkin saya sudah membenamkan diri ke air yang dingin. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin saya harus membungkus telepon seluler saya terlebih dahulu dengan plastik tahan air, mungkin sekalian membungkus earphone entah bagaimana cara membungkusnya.

Sudahlah, saya ingin melanjutkan menjelajah masa lalu menikmati lelagu dari Stars And Rabbit. Sebaiknya Anda menikmatinya juga.

Berbahagialah kamu

Jangan lagi kudengar keluh kesahmu tentang rumah ataupun pekerjaanmu

Bukankah itu semua keinginanmu

Supaya aku bisa berbahagia sebagaimana kamu

Siang nan Misterius Mistis: Let Me Begin-The Milo

Seorang kawan menawarkan CD The Milo, The Photograph. Suatu saran unik untuk mendengarkan band yang tak pernah saya dengar sebelumnya, “dengerin ini bagus deh, tapi alirannya agak misterius mistis gitu”. Misterius mistis? Ini aliran gaya bermusik yang dimainkan atau semacam aliran sesatkah sebenarnya. “Maksudnya?” “Lagu-lagu mereka tidak didominasi oleh suara vokal sang vokalis.” Oke lah saya akhirnya untuk pertama kalinya saya mendengarkan The Milo.

Setelah mendengarkan The Milo, akhirnya saya dapat mengerti apa yang dimaksud oleh kawan saya itu. Tapi hanya beberapa kali saja kemudian saya lama tak lagi mendengarkannya. Sampai suatu kala saya membaca twit bahwa The Milo akan merilis album Let Me Begin dalam bentuk piringan hitam. Kebetulan saya yang saat itu sedang keranjingan piringan hitam ikutlah berburu piringan hitam. Saya membeli paket seharga Rp 500.000 yang ditawarkan oleh pengelola cendera mata The Milo, berisi piringan hitam, cakram digital, t-shirt, stiker, dan tote bag. Tak lupa tanda tangan setiap anggota band memenuhi sampul piringan hitam dan cakram digital.

20150507_125333

Asik juga mendengarkan The Milo, memberi angin segar buat saya yang tak bisa bernyanyi ini. Masih ada kesempatan buat jadi anak band yang tak pandai bermain alat musik. Mungkin saya bisa mengisi vokal dengan suara-suara erangan yang disenikan. (Hahaha, apa pula lah. Semakin tak tahu diri saja ya)

Mendengarkan The Milo membuat saya terbawa ke dunia yang berbeda. Jika panas menyengat datang kala mentari sedang bersemangat kadang kita kalah semangat, siapa yang bisa menahan godaan untuk bermalas-malasan ria, bermain air atau menikmati es teler yang menggoda. Oh, feel so lazy now… Bermalas-malasan sambil menatap langit birupun kadang menyejukan, blue is cool. Dan panas yang menyengat itu hanya butuh satu matahari saja, that’s just one sun that burns our day, perfect world. Tapi yang sempurna itu tak pernah ada, dan kita hanya terjebak di dunia semu. Saat yang paling sulit dipahami adalah saat-saat berpisah. Bahkan tak sesulit saat kita mengerjakan integral ganda atau sekedar limit tak berhingga, it’s broke. Mungkin sianida dapat membantu, membiarkan malaikat itu menjerat diri. Bagaimana kekosongan jiwa yang meratap saat saat yang paling terkasih hanya bermain-main dengan rasa kemudian pergi seperti malaikat. Malaikat yang dulu selalu menciptakan romansa, malam-malam yang romantis, romantic purple. Malaikat itulah yang dulu datang dari surga, mempesona, jatuh cinta, Lolita. Atau jiwa yang menumbuh-suburkan sisi kelam hidup dan yang bisa dilakukan hanya belas kasihan agar diluputkan dari kelam yang semakin membutakan. Dan pasti akan menyenangkan untuk akhirnya bisa juga meletakan kepala pulang sambil menikmati langit yang biasanya biru tapi kenyataannya tak sebiru yang kita bayangkan, langit seharusnya biru. Setelah yang dilalui sekian banyak, keindahan, kejatuhan, impian semua, harusnya kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih bisa pulang, ke tempat di mana seharusnya kita berada, the place.

Seperti dalam surat yang disampaikan kepada pendengarnya, album ini sangat pas dinikmati di siang hari yang panas di temani es teh manis. Perpaduan sederhana yang menyenangkan.

Serasa membaca surat yang dibuat khusus untuk saya, surat yang cukup pribadi. Seperti tuntunan untuk mengenal diri sendiri. Dalam suratnya pun, diceritakan bagaimana jalan panjang karya diciptakan, ditumbuhkan, kemudian dirumahkan dalam Let Me Begin. Dan potongan dari surat itu:

Let Me Begin. Sebuah ucapan. Ungkapan. Pernyataan. Pengakuan. Sebutlah dia apa saja yang engkau mau, yang jelas dengan terngiangnya nada-nada serta kata-kata dalam Malaikat, Romantic Purple atau Broke pada telinga anda setidaknya garis tipis – kehampaan – antara harapan dan keputus-asaan telah menemukan seorang pendengar. nishkara, bandung, januari 2002

Selamat menikmati siang nan terik di musim kemarau yang datang seperti sarik.

CARA PANDANG YANG BERBEDA: NOAH (2014)-DARREN ARONOFSKY

Akhirnya berhasil juga menulis ulasan tentang film yang saya tonton. Sebenarnya sudah sejak awal pembuatan blog ini, saya merencanakan untuk membuat ulasan tentang film. Kesampaian juga.

Suatu kali saya membaca suatu renungan yang ditulis oleh Arie Saptaji yang diterbitkan oleh Yayasan Gloria pada Kamis, 2 Juli 2015. Arie memberi ilustrasi pengantar renungan dengan penggambaran nabi Nuh yang terdapat dalam film Noah garapan Darren Arosnofsky.

Saya mendapat salinan film tersebut dari seorang kawan. Kemudian mengertilah saya kenapa film tersebut dilarang tayang di Indonesia. Mungkin karena sudut pandang yang berbeda dari yang biasa diketahui orang (Indonesia) pada umumnya jugalah yang membuat film ini akhirnya tidak tayang di Indonesia. Menurut saya tak ada yang salah dari penggambaran Arosnofsky tentang Nuh, bahkan mungkin Arosnofsky lebih memahami lebih dalam siapa Nuh daripada saya yang notabene tidak pernah ikut sekolah minggu semasa bocah (kemudian saya dianggap sesat pula 😥 ). Tidak mungkinlah Arosnofsky tidak melakukan penelitian tentang Nuh sewaktu ia menulis kisah yang kemudian menjadi sebuah film ini. Ada sisi baik dan buruk Nuh yang mungkin ditemui Arosnofsky saat melakukan pendalaman kisah Nuh dan ditampilkannya dalam karakter Nuh dalam filmnya.

Dalam film Noah, Nuh (Russell Crowe) ditampilkan sebagai keturunan nabi Adam yang dipilih Sang Pencipta untuk menyelesaikan misiNya memusnahkan peradaban dunia dengan air bah yang dasyat. Kalau menurut Arie (Kejadian 6:1-7), Nuh adalah termasuk ke dalam angkatan yang jahat pada kala itu. Nuh dipilih bukanlah karena dia orang baik namun hanya semata karena kehendakNya, karuniaNya. Bukan karena dia orang baik, tapi kerena Sang Pencipta tahu Nuh dapat menyelesaikan misi yang diembankan kepadanya.

Nuh hanya manusia biasa. Nuh bahkan harus berpikir dengan otaknya sendiri kemudian meminta saran dari kakeknya hanya untuk mengerti maksud Sang Pencipta. Seperti manusia biasa lainnya Nuh juga tak dapat menjauhkan diri dari sikap menghakimi diri dan orang lain. Dia kemudian menganggap dirinya bersalah karena sekali lagi menurutnya tak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Nabi saja bisa melakukan kesalahan yang tidak disadarinya, apalagi saya yang manusia biasa. Tapi kata teman saya yang lagi puasa media sosial mah, “siapa lu bisa menentukan orang lain dosa apa enggak?”

Tak sama persis dengan kisah yang biasa kita dengar bukan berarti salah kan? Tentu saja Arosnofsky menambah kisah yang membuat film ini layak untuk ditonton. Kalau film ini penulisannya dibuat sama dengan kisah-kisah anak sekolah minggu, mungkin film 2 jam lebih ini akan sangat membosankan.

Dalam film ini seperti ingin menunjukkan bahwa nabi, orang yang terpilih itu sejatinya adalah manusia biasa, dia bisa salah seperti manusia lainnya. Dia bisa memilih apa yang baik menurut hati nuraninya, tapi kadang kegagalan juga bisa membuat terpuruk. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Mungkin saat kita merasa gagal, kita perlu rehat sejenak kemudian meihat dari sudut pandang yang berbeda bahwa kegagalan yang kita rasakan adalah jalan lain menuju keberhasilan.

Yuk lihat lebih banyak supaya hidup yang sudah sesak tak tambah menjadi pelak

PIKNIK ANTIKLIMAKS (LAGI): BROMO

Saat mendambakan piknik pelepas lara, lelah, gundah gulana, kemudian dengan riang kembali ke kegiatan rutin. Apa yang terjadi jika piknik yang dilakukan ternyata tidak seperti yang diharapkan? Terkadang hal-hal yang remeh-temeh bisa membuat piknik menjadi antiklimaks.

Semisal hujan. Beberapa tahun lalu saya mengikuti prosesi Tri Suci Waisak di candi Mendut dan candi Borobudur. Piknik sambil pacaran, asik benar lah ini tampaknya. Makan siang pun diberkahi oleh pak Polisi yang sedang bertugas. Lumayan diberi nasi kotak gratis dari pak polisi yang sedang membawa ransum untuk para Polisi yang bertugas mengamankan prosesi perayaan waisak kala itu. Semakin sore, semakin tebal awan menghitam. Hujan turun semakin malam semakin deras. Prosesi perayaan yang ditunggu-tunggu kala, pelepasan lampion gagal di gelar karena derasnya hujan. Pulang ke rumah dengan setengah basah, jas hujan pun serasa tak mampu menangkis hujan. Tak ada foto lampion berterbangan di langit malam yang ada hanya foto para anggota Power Ranger dengan kostum berwarna-warni.

575359_10200790130907320_969775929_n
Foto Oleh: Fadhila Admojo

Kali lain adalah saat menemui gunung Bromo. Sudah lewat senja saat tiba di kota Probolinggo. Sama seperti kebanyakan kota lain, semua angkutan umum lenyap saat matahari tertidur. Bukan Bromo yang mengecewakan, bagaimana mungkin Bromo mengecewakan kami? Bukankah Bromo adalah Sang Pencita itu? Bagaimana tak bersyukur sedekat itu dengan Pencintamu? Tapi perilaku para pelaku bisnis pariwisata yang menawarkan jasa untuk membantu menikmati bromo yang mengecewakan. Entah apalah yang mereka lakukan sebenarnya hanya terasa seperti menipu saja, tapi tidak juga. Mungkin kami berharap lebih saja dengan membayar jasa mereka. Namun yang kami dapatkan adalah fasilitas seadanya.

Tak terlalu kecewa lah, mungkin pengalaman sebelumnya dengan piknik antiklimaks membuat saya merasa biasa saja. Nikmati saja, kemudian terbiasa. Masih banyak yang hal yang bisa dinikmati seperti sang Bromo.

20150406_053556
Matahari Terbit
20150406_071835
Kawasan Gunung Bromo
20150406_084429
Gunung Batok
20150406_094729
Bukit Teletabies
20150406_100132
Pasir Berbisik

Banyak-banyak piknik supaya tidak panik jika ada datang pelik.

Bukan Sinetron: Lelaki Harimau-Eka Kurniawan

Saya mendeklarasikan novel-novel Eka Kurniawan sebagai buku kegemaran saya jika ada yang menanyakan buku apa yang jadi kegemaran saya untuk dibaca. Saya rasa, saya juga jatuh cinta pada novel-novel karya Eka Kurniawan. Saya juga sempat membaca kumpulan cerpen Eka Kurniwan, Corat-Coret di Toilet. Tapi saya lebih sreg dengan novelnya saja. Mungkin benar kata Ronal Surapradja di salah satu acara bicang-bincang komedi di televisi, bahwa lelaki itu adalah cerpen dan perempuan itu adalah cerbung. Maka saya lebih senang membaca novel yang panjang kisahnya.

Ketertarikan saya pada Eka Kurniawan dimulai setelah membaca twit dari Arman Dhani tentang buku-buku yang beliau rekomendasikan untuk dibaca tahun 2014. Buku Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus  Dibayar Tuntas menurut Arman Dhani adalah buku penting 2014. Jadilah sewaktu saya berkunjung ke toko buku yang katanya diskon seumur hidup itu, saya melihat nama Eka Kurniwan dengan sampul buku berwarna didominasi jingga dengan gambar burung yang sedang tertidur. Itu dia, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Membaca sinopsisnya dan menurut saya sepertinya seru juga ceritanya. Jadilah saya beli buku itu.

Saya membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas saat perjalanan keluar kota untuk tes kerja keesokan harinya. Bukan membaca bahan untuk persiapan tes kerja, saya malah penasaran menyelesaikan membaca buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Saya terpesona dengan gaya penulisan Eka Kurniawan dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Begitu juga kemudian saya membaca Cinta Itu Luka, sampai cici penjual cat saja juga tergoda untuk membacanya.

Ada yang khas dari gaya penulisan Eka Kurniawan menurut saya, apa adanya. Eka menggunakan kata-kata vulgar dalam kisahnya tapi tidak terkesan saru. Itu lah apa adanya, kata-kata yang dianggap tidak sopan malah digunakannya. Tapi dengan kata-kata yang dianggap tidak sopan itu kisah yang ditulisakan dapat dipahami dengan mudah, nyaman di mata, seperti kata Arman Dhani dalam twittnya yang lalu.

Terakhir dalam perjalanan menuju Papandayan, saya membaca Lelaki Harimau. Saya sudah memiliki buku tersebut setengah tahun lalu dan baru membacanya kemudian. Agak malas sebenarnya membaca Lelaki Harimau ini dikarenakan saya terpengaruh sinetron kekinian yang digandrungi sebagian besar anak-anak Indonesia kala ini. Menganggap mungkin Lelaki Harimau adalah kisah-kisah semacam manusia siluman setengah harimau atau sejenisnya. Tapi ternyata saya salah, novel ini bukan sinetron. Sekali lagi saya menemukan kekhasan Eka Kuriawan di dalamnya. Seru seperti biasanya.

Lelaki harimau adalah kisah bagaimana warisan leluhur akan membela kita seutuhnya untuk melawan hal-hal yang mendukakan kita. Seorang pemuda memiliki warisan dari kakeknya berupa seekor harimau, harimau yang tak kasatmata. Harimau yang memberikannya kekuatan untuk membantunya membahagiakan orang-orang disekelilingnya, ibunya. Tapi kadang harimau itu tak dapat ia kendalikan.

Baca saja, Anda akan tahu bagaimana keseruannya. Dan bagaimana vulgar yang tidak saru itu. Seru dan tidak saru.

Selamat menikmati bukan sinetron harimau, tetapi Lelaki Harimau.

SEPOTONG SURAT CINTA: PAPANDAYAN

Pelesiran kali ini adalah di mana saya dapat menikmati tatkala rimba melabuh senja berkabutkan ragu bisu biarkan risau bergulir kisruh bentang bintang berkasih pilu[1] tak habis di langit malam dengan tangan tergenggam hingga membuat jantung berdegup kencang. Tenang saja, tak seromantis yang dibayangkan. Tulisan kali ini adalah hiperbola belaka, mungkin perlu saya tambahkan tagar fiksi supaya Anda yakin bahwa terlalu banyak bualan dalam kisah ini.

Gunung Papandayan bukan lah teman lama saya, tapi dengan kawan lama lah saya berjumpa dengan gunung Papandayan. Kawan semasa kuliah dulu kala, sebenarnya sih dulu saya agak mengidolakan beliau ini, sampai pacar saya sewaktu itu agak cemburu kepadanya.

Kawan saya bercerita akan ke Papandayan suatu akhir pekan, tanpa pikir panjang saya mengajukan diri untuk ikut. Dan akhirnya saya menghabiskan akhir pekan di Papandayan. Pertemuan saya dengan kawan yang satu ini setelah sekian tahun tak bertemu, biasa saja. Percakapan kecil yang menggelitik membuka pertemuan kami yang entah berapa lama tak bersua lagi.

“Berapa tahun kita nggak ketemu ini?”

“Iya eh, dah lama ya ternyata.”

“Masih kurus aja.”

“Iya, kamu juga.”

“Makanya kawin.”

“Hahaha, kamu juga lah. Emang kawin bisa bikin tambah gemuk.”

“Ya tergantung, kawin bikin bahagia nggak.”

“Hahaha.”

Kami mengakhiri tawa dengan tos. Tapi dalam hati rasanya saya berkata “sial!”

Malam di Papandayan, huadem bener. Dingin berrrrr. Mungkin karena sudah memasuki musim kemarau, jadi suhu udara di kala malam duingin banget. Tapi langit malam itu besih, cerah. Gugusan bintang dan bima sakti yang dulu saat SMA dijelaskan pak Mardianta[2] tetiba muncul dengan jelasnya tanpa berusaha mengenali sedikitpun. Bahkan bulan juga tak malu-malu lagi menampakan diri. Kekawanan lain bahkan bersedia menunggu bulan terbenam hanya untuk mendapatkan foto gugusan bima sakti yang cantik nian.

Dan saya hanya bisa memandang gugusan bintang yang cantik belaka di malam yang dingin, bersama seorang kawan lama. Kami saling bergenggam tangan, bukan hendak menciptakan romansa tapi karena kedinginan. Bahkan saya sudah tak bisa merasakan ujung jari saya. Padahal saya sudah menggunakan sarung tangan tapi tetap duingin cuy.

Dan sayang sekali bukan pula adegan menatap bintang sambil berpegangan tangan yang membuat jantung saya berdebar. Tapi saat tidur masuk dalam tenda. Walaupun sudah berbalut jaket dan masuk ke dalam sleeping bag, saat rebah saya masih dapat merasakan dingin menyerabak menjalar di sepanjang punggung saya. Dan kedinginan itu lah yang membuat jantung saya berdebar. Dan saya memutuskan untuk tidur dalam posisi duduk, entah tidur kah, entah tidak. Yang saya ingat setiap jam sepertinya ada yang menanyakan, “sekarang jam berapa?” Dan waktu seperti terhenti ikut kedinginan.

Matahari adalah hal yang menyenangkan buat saya kala itu. Saya rela kulit saya terbakar daripada harus deg-deg-an lagi kedinginan.

Setelah saya kembali ke Yogjakarta, lalu tetiba saya teringat teman lama, kamu bikin kangen juga ternyata. Kapan bisa jumpa lagi, ada sepotong surat cinta untuk mu.

[1] Lirik lagu Bentang Bintang-Marsh Kids

[2] Guru Fisika semasa SMU