PIKNIK ANTIKLIMAKS (LAGI): BROMO

Saat mendambakan piknik pelepas lara, lelah, gundah gulana, kemudian dengan riang kembali ke kegiatan rutin. Apa yang terjadi jika piknik yang dilakukan ternyata tidak seperti yang diharapkan? Terkadang hal-hal yang remeh-temeh bisa membuat piknik menjadi antiklimaks.

Semisal hujan. Beberapa tahun lalu saya mengikuti prosesi Tri Suci Waisak di candi Mendut dan candi Borobudur. Piknik sambil pacaran, asik benar lah ini tampaknya. Makan siang pun diberkahi oleh pak Polisi yang sedang bertugas. Lumayan diberi nasi kotak gratis dari pak polisi yang sedang membawa ransum untuk para Polisi yang bertugas mengamankan prosesi perayaan waisak kala itu. Semakin sore, semakin tebal awan menghitam. Hujan turun semakin malam semakin deras. Prosesi perayaan yang ditunggu-tunggu kala, pelepasan lampion gagal di gelar karena derasnya hujan. Pulang ke rumah dengan setengah basah, jas hujan pun serasa tak mampu menangkis hujan. Tak ada foto lampion berterbangan di langit malam yang ada hanya foto para anggota Power Ranger dengan kostum berwarna-warni.

575359_10200790130907320_969775929_n
Foto Oleh: Fadhila Admojo

Kali lain adalah saat menemui gunung Bromo. Sudah lewat senja saat tiba di kota Probolinggo. Sama seperti kebanyakan kota lain, semua angkutan umum lenyap saat matahari tertidur. Bukan Bromo yang mengecewakan, bagaimana mungkin Bromo mengecewakan kami? Bukankah Bromo adalah Sang Pencita itu? Bagaimana tak bersyukur sedekat itu dengan Pencintamu? Tapi perilaku para pelaku bisnis pariwisata yang menawarkan jasa untuk membantu menikmati bromo yang mengecewakan. Entah apalah yang mereka lakukan sebenarnya hanya terasa seperti menipu saja, tapi tidak juga. Mungkin kami berharap lebih saja dengan membayar jasa mereka. Namun yang kami dapatkan adalah fasilitas seadanya.

Tak terlalu kecewa lah, mungkin pengalaman sebelumnya dengan piknik antiklimaks membuat saya merasa biasa saja. Nikmati saja, kemudian terbiasa. Masih banyak yang hal yang bisa dinikmati seperti sang Bromo.

20150406_053556
Matahari Terbit
20150406_071835
Kawasan Gunung Bromo
20150406_084429
Gunung Batok
20150406_094729
Bukit Teletabies
20150406_100132
Pasir Berbisik

Banyak-banyak piknik supaya tidak panik jika ada datang pelik.

Advertisements

SEPOTONG SURAT CINTA: PAPANDAYAN

Pelesiran kali ini adalah di mana saya dapat menikmati tatkala rimba melabuh senja berkabutkan ragu bisu biarkan risau bergulir kisruh bentang bintang berkasih pilu[1] tak habis di langit malam dengan tangan tergenggam hingga membuat jantung berdegup kencang. Tenang saja, tak seromantis yang dibayangkan. Tulisan kali ini adalah hiperbola belaka, mungkin perlu saya tambahkan tagar fiksi supaya Anda yakin bahwa terlalu banyak bualan dalam kisah ini.

Gunung Papandayan bukan lah teman lama saya, tapi dengan kawan lama lah saya berjumpa dengan gunung Papandayan. Kawan semasa kuliah dulu kala, sebenarnya sih dulu saya agak mengidolakan beliau ini, sampai pacar saya sewaktu itu agak cemburu kepadanya.

Kawan saya bercerita akan ke Papandayan suatu akhir pekan, tanpa pikir panjang saya mengajukan diri untuk ikut. Dan akhirnya saya menghabiskan akhir pekan di Papandayan. Pertemuan saya dengan kawan yang satu ini setelah sekian tahun tak bertemu, biasa saja. Percakapan kecil yang menggelitik membuka pertemuan kami yang entah berapa lama tak bersua lagi.

“Berapa tahun kita nggak ketemu ini?”

“Iya eh, dah lama ya ternyata.”

“Masih kurus aja.”

“Iya, kamu juga.”

“Makanya kawin.”

“Hahaha, kamu juga lah. Emang kawin bisa bikin tambah gemuk.”

“Ya tergantung, kawin bikin bahagia nggak.”

“Hahaha.”

Kami mengakhiri tawa dengan tos. Tapi dalam hati rasanya saya berkata “sial!”

Malam di Papandayan, huadem bener. Dingin berrrrr. Mungkin karena sudah memasuki musim kemarau, jadi suhu udara di kala malam duingin banget. Tapi langit malam itu besih, cerah. Gugusan bintang dan bima sakti yang dulu saat SMA dijelaskan pak Mardianta[2] tetiba muncul dengan jelasnya tanpa berusaha mengenali sedikitpun. Bahkan bulan juga tak malu-malu lagi menampakan diri. Kekawanan lain bahkan bersedia menunggu bulan terbenam hanya untuk mendapatkan foto gugusan bima sakti yang cantik nian.

Dan saya hanya bisa memandang gugusan bintang yang cantik belaka di malam yang dingin, bersama seorang kawan lama. Kami saling bergenggam tangan, bukan hendak menciptakan romansa tapi karena kedinginan. Bahkan saya sudah tak bisa merasakan ujung jari saya. Padahal saya sudah menggunakan sarung tangan tapi tetap duingin cuy.

Dan sayang sekali bukan pula adegan menatap bintang sambil berpegangan tangan yang membuat jantung saya berdebar. Tapi saat tidur masuk dalam tenda. Walaupun sudah berbalut jaket dan masuk ke dalam sleeping bag, saat rebah saya masih dapat merasakan dingin menyerabak menjalar di sepanjang punggung saya. Dan kedinginan itu lah yang membuat jantung saya berdebar. Dan saya memutuskan untuk tidur dalam posisi duduk, entah tidur kah, entah tidak. Yang saya ingat setiap jam sepertinya ada yang menanyakan, “sekarang jam berapa?” Dan waktu seperti terhenti ikut kedinginan.

Matahari adalah hal yang menyenangkan buat saya kala itu. Saya rela kulit saya terbakar daripada harus deg-deg-an lagi kedinginan.

Setelah saya kembali ke Yogjakarta, lalu tetiba saya teringat teman lama, kamu bikin kangen juga ternyata. Kapan bisa jumpa lagi, ada sepotong surat cinta untuk mu.

[1] Lirik lagu Bentang Bintang-Marsh Kids

[2] Guru Fisika semasa SMU

8 TAHUN LAGI: DARATAN TINGGI DIENG

Tahun lalu saya mengincar akan pergi ke Dieng, ada festival budaya di sana. Saya pun sudah menyelesaikan hutang tesis di kampus. Tapi belum ada rekan perjalanan, parno juga kalau belum punya informasi tentang tempat tujuan dan berangkat sendiri. Jadi di tunda dulu beberapa saat.Sampai akhirnya ada teman yang kebetulan berdomisili di Wonosobo dan juga mau menemani saya jejalanan ke Dieng.

Jadilah kami berdua menggunakan sepeda motor, melaju menuju Wonosobo via Salaman. Baru sampai Salaman, eh udah istirahat aja sambil minum susu gitu. Padahal kata teman saya, kami belum ada ada setengah jalan.

Sampai di Wonosobo, kami langsung ke Dieng. Sepeda motor saya yang berjenis automatik, sampai tidak kuat nanjak. Gas sudah poll, tapi motornya pelan benar, sepelan kalau kita jalan kaki mungkin. Sampai lah kami di desa tertinggi di pulau Jawa, Sembungan. Karena tujuan utama kami adalah melihat matahari terbit di Sikunir. Cari penginapan, istirahat sebentar, jalan sekeliling desa, makan, terus istirahat.

20140919_161834[1]

Penginapan kami cukup murah, Rp 200.000 dan itu serumah yang terdiri dari 3 kamar. Jadi semakin rame akan semakin murah juga patungannya.

Kami menuju Sikunir jam 4 pagi, sebenarnya tidak terlalu jauh menuju puncak Sikunir. Mungkin seperti ke Gunung Api Purba Nglangeran. Berhubung akhir pekan, jadilah kami menyaksikan matahari terbit berjamaah. Tapi tetap cantik kok.

20140920_053647[1] 20140920_053400[1] 20140920_053720[1]

*

Puas memandang matahari terbit, kami lanjut ke Telaga Warna. Sebelumnya juga saya sudah ke Telaga Warna, tapi yang di Bogor. Karena sedang musim kemarau, jadi air telaga agak surut. Hanya saja bau belerangnya cukup kuat. Ada beberapa situs-situs goa di sekitar telaga. Ada batu tulis, yang katanya jika ada anakk yang kurang cerdas bawa aja ke situ. Kemudian ada gua yang sering dijadikan tempat berdoa mohon keturunan. Karena dulunya ada kuda yang berteduh di goa tersebut, besoknya kudanya sudah bunting deh. Saya jadi bercandaan sama teman saya. “Gimana kalau aku masuk doa ini, kemudian kalau sudah punya anaknya dibawa ke batu tulis deh.”

20140920_101254[1] 20140920_104604[1]

*

Kami juga ke komplek Candi Arjuna, yang saat festival kebudayaan Dieng digunakan pagelaran musik jazz. Agak mengecewakan komplek candinya. Selain kepala candi sudah tidak ada (mungkin diselamatkan daripada dicuri), bangunan candi seperti mau roboh. Kata teman saya yang sudah ke komplek Candi Arjuna sebelumnya juga candinya seperti tidak dirawat dengan baik, ada bagian-bagian candi yang lebih kecil yang dulunya ada sekarang tidak ada.

20140920_114420[1]

*

Kami kembali ke Wonosobo, mampir makan makanan khas Wonosobo, mie ongklok dengan sate sapi. Untuk selera saya, ini enak!

IMG-20141201-WA0001[1]

*

Saya jadi teringat sekitar 10 tahun lalu ada kawan yang juga berdomisili di Wonosobo mengajak saya main ke rumahnya. Itu karena saya minta oleh-oleh mie ongklok jika ia pulang, gegara menonton acara wisata di TV yang menampilkan mie ongklok sebagai makanan khas Wonosobo. Saya tak pernah berkesempatan untuk ke Wonosobo waktu itu, 10 tahun kemudian baru saya sampai ke Wonosobo.

2 tahun lalu sebenarnya ada kawan yang mengajak ke Bali dan saya belum berkesempatan lagi. 8 tahun lagi mungkin saya bisa berangkat. Sebelum berakhir di Bali seperti kata Daniel Ziv, sebaiknya saya pergi ke tempat-tempat yang lain terlebih dulu.

***

BERMULA DARI BOGOR

The Naked Traveler adalah tantangan yang menyenangakan dan merupakan titik kebangkitan bagi semua orang yang dunia travelling-nya hanya bermula di Bogor dan berakhir di Bali.-Daniel Ziv, penulis buku Jakarta Inside Out, sutradara film Jalanan. ­

Pernyataan tersebut saya temukan di buku Trinity-The Naked Traveler 1. Pernyataan itulah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menulis ini dan menambahkan satu kategori lagi dalam halaman ini, pengalaman saya jejalanan.

Perjalanan saya mulai dengan ketera malam menuju Jakarta ditemani dengan buku kumpulan cerita pendek M. Aan Manyur, Kukila. Belum lagi sampai di Jakarta, bacaan saya sudah tamat. Belum lagi saya jadi terobsesi mencari pilang saya sesampainya di Kebun Raya Bogor nanti. Sayangnya pohon yang saya dambakan itu ada di halaman Istana Bogor dan saya sebagai rakyat jelata tidak diperbolehkan berkeliaran di halaman istana. Tapi saya menemukan pohon tikus mati (dulu pernah diributin teman-teman kos di Cepu dan bikin nama sendiri karena tidak mengetahui nama pohon aneh itu), yang ternyata juga ada di halaman tempat kerja saya.

IMG_6553

Pemandu wisata teman saya payah, sudah lama tinggal di Bogor namun tak tahu tempat yang menyenangkan yang bisa kami datangi, kecuali Kebun Raya Bogor tentunya. Maka saya mengajak teman saya ke kaki gunung Salak dengan bantuan Google Map tentunya. Tujuan pertama saya adalah Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari, atau lebih dikenal dengan Pura Siliwangi. Sayangnya kami tidak bisa masuk karena sedang ada pekan acara khusus, sehingga pelancong umum tidak bisa masuk. Tidak ingin piknik hari ini berakhir dengan antiklimaks, kamu mencari tempat lain, Curug Nangka.

Saya memang membawa celana pendek supaya bisa main air, namun sepertinya saya salah perhitungan. Karena akan menyenangkan jika saya bawa baju ganti sekalian jadi lah saya tak dapat ikutan nyempung ke air.

IMG_6749

Karena sampai di curug bertepatan dengan saat makan siang, jadi lah baru main air sebentar, eh sudah lapar. Untungnya ada banyak yang jualan makanan-makanan seadanya untuk mengganjal perut. Walaupun cuma mie instan tapi sambil lihat pemandangan jadinya enak juga, entah enak, entah lapar.

IMG_6645

Curug Nangka satu kawasan dengan Curug Daun dan Curug Kawung. Dan Curug Kawung itu keren banget sih.

IMG_6437

*

Karena saya kehabisan kereta, jadilah mundur sehari untuk kembali ke Jogja. Masih ada satu hari lagi main di Bogor deh. Kami pergi ke arah puncak. Teman saya mengajak ke Kota Bunga, kata temannya sih OK. Tapi saya mengajak ke Telaga Warna saja. Ibu kos tempat saya menginap menyarankan untuk ke perkebunan teh. Dalam perjalanan belum lagi sampai, hujan turun. Kami berteduh, sambil makan siang, mie instan lagi. Jangan sampai antiklimaks lagi deh.

Hujan reda. Tanya-tanya sama teteh yang jualan katanya Telaga Warna sudah dekat kok. Jadilah teman saya juga ikut meneguhkan hati ke Telaga Warna saja. Dan tempat ini serba hijau, kebun teh-nya berwarna hijau, telaganya warna hijau juga. Banyak monyet ekor panjang berkeliaran juga. Ada jalur selajah hutannya juga, awas banyak pacet.

*

Lanjutlah kunjungan balasan di Jogja. Hari pertama di Jogja kami pergi ke Gunung Api Purba Nglangeran, yang sedang penuh-penuhnya karena hari minggu. Kemudian lanjut ke Candi Ratu Boko. Banyak tanbahan bangunan candi yang sudah berhasil digali dan direkonstruksi dibanding pertama kali saya ke Ratu Boko sebelumnya. Tapi pelataran setelah pintu gerbang candi yang dulunya hijau enak dipandang mata[1], jadi coklat kering, karena musim kemarau sih sepertinya.

*

Hari kedua saya mengajak teman saya itu ke Sendang Sono. Kami membeli lilin devosi, yang terdiri dari dua lilin. Satu doa minta jodoh, satunya lagi buat dapat kerjaan. Jadilah kami pegang lilin satu-satu. Tebak deh lilin devosi apa yang saya pegang.

Ada pengalaman entah lucu, entah aneh sebelumnya saat ke Sendang Sono. Saya datang bersama teman lelaki. Seminggu kemudian, eh kita pacaran deh. Kemudian ada celetukan teman yang tahu kalau kami pernah ke Sendang Sono, katanya “berkah dari Sendang Sono ya….”. Baru saya tahu setelah kami tidak pacaran lagi kalau katanya salah satu doa yang manjur jika doa minta jodoh, duh. Padahal waktu itu saya cuma bilang, “Tuhan, saya datang sama teman saya nih” begitu saja.

Kemudian kami ke Borobudur, ini adalah satu-satu tujuan yang membuat teman saya ikut ke Jogja. Kami mengikuti jalur……, yaitu pada tingkat pertama kita memutari candi searah jarum jam sampai titik awal naik tadi kemudian baru naik ke tingkat dua, begitu seterusnya sampai puncak. Kata pemandu wisatanya sih jika mengikuti jalur tersebut kita akan berjalan sepanjang 15 KM. Masa sih, tidak terasa cape sih cuma berasa lapar aja setelahnya.

Kata teman yang bolehlah diambil kutipannya, trevelling itu harus siap, siap mental juga siap biaya. Karena menurutnya, yang sebelumnya sudah pernah ke Borobudur. “Tidak mendapat apa-apa, hanya cape. Tapi sekarang lumayan banyak nambah ilmu.” Sepertinya ini karena setiap ada pelancong (terutama yang mancanegara) yang menggunakan jasa pemandu wisata, kami mlipir-mlipir mendekat, curi dengar informasi tentang Borobudur.

Pulangnya kami langsung ke Pasar Ngasem yang kebetulan sedang ada acara Festival Kesenian Yogyakarta 26. Saat kami datang dan kemudian Answer Sheets manggung, ini kedua kalinya nonton mereka. Sebelumnya mereka menjadi pembuka konser FRAU-Happy Coda.

Teman saya, sibuk dengan pemain bass yang katanya kakinya sexy. Heh.

IMG_7275

*

Saya sudah mulai dari Bogor sebelum saya akhiri di Bali, mungkin saya pergi jejalanan ke tempat lain terlebih dahulu.

***

Foto: Saya dan Pepen

[1] Kumpulan Cerpen karya Ahmad Tohari