Kisah Masa Lalu: Constellation-Stars And Rabbit

20150809_114647[1]

Sore ini saya menikmati lelagu dari pemutar lagu di telepon seluler saya. Beberapa lagu yang membuat saya melakukan perjalanan ke masa lalu. Karena sebagian besar lagu yang saya dengar pernah saya dengarkan di masa lalu dan menyimpan beberapa kisah masa lalu.

Stars And Rabbit tahun ini (2015) merilis album Constellation, dan lagu mereka lah yang saya dengarkan sore ini. Santai sore dengan lagu kenangan di tepi kolam, syahdu.

Saya memutar dengan acak lagu di album Constellation. Lagu yang saya dengar pertama kali adalah Man Upon The Hill dan lagu ini langsung membawa saya ke masa lalu.

*

Pertama kali mendengar Stars And Rabbit dari kawan yang adalah pendengar musik independen Akan ada konser dari Stars And Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes And The Couples Company di Teater Garasi, Yogyakarta dalam Konser Suara 7 Nada 7 Maret 2013 lalu. Sepertinya kawan saya itu (yang katanya juga tak begitu mengenal Stars And Rabbit) sedang mempersiapkan diri agar maksimal nantinya menikmati konser tersebut mungkin sambil sedikit menguliahi saya, “ini salah satu yang akan tampil di konser yang akan kita tonton nanti.” Dan lagu kesukaannya saat itu adalah Rabbit Run yang sayangnya tidak dibawakan saat konser berlangsung. Mungkin kawan saya itu masih menyimpan daftar lagu yang dimainkan saat konser tersebut. Saat menonton Stars And Rabbit dalam konser tersebut seperti telinga saya ditipu oleh pemutar lagu dari komputer jinjing kawan yang menguliahi saya tadi. Stars And Rabbit jauh lebih memukau saat ditonton langsung.

Suatu kali saya mengantar kawan saya piknik, dan akhir piknik malam itu adalah pasar Ngasem. Saat itu sedang ada festival kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke 26. Saya melihat jadwal panggung mereka dan berhasil menemukan nama Stars And Rabbit akan tampil di akhir minggu. Dengan niat dan semangat 45 saya berhasil nodong kawan saya menemani saya menyaksikan Stars And Rabbit sekali lagi. Tampilan mereka malam itu seperti biasanya selalu memukau terutama saat mereka mengakhiri tampilan mereka dengan Man Upon The Hill. Saya ikut berdiri bertepuk tangan selain memang tampilan mereka memukau sebenarnya saya lebih ingin menyeka air mata supaya kawan saya disebelah tak perlu tahu kalau the man upon the hill saya telah menemukan rumah yang baru dan sayangnya saya belum seharusnya bahagia. Malam itu kedua kalinya saya menikmati penampilan Stars And Rabbit dan kedua kalinya saya mendengar perkataan mba Elda sang vokalis, “tak pernah saya patah hati sejelas ini.”

*

Lagu Cry Little Heart kemudian menyusul lagu sebelumnya. Sialnya saya terbawa suasana untungnya tak sampai menangis lagi. Seperti diingatkan untuk menenangkan hati yang sedang duka, memejamkan mata, mendengarkan hembusan angin. Sungguh andai saja kolam yang ada di depan saya ini bukan kolam ikan tetapi kolam renang, mungkin saya sudah membenamkan diri ke air yang dingin. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin saya harus membungkus telepon seluler saya terlebih dahulu dengan plastik tahan air, mungkin sekalian membungkus earphone entah bagaimana cara membungkusnya.

Sudahlah, saya ingin melanjutkan menjelajah masa lalu menikmati lelagu dari Stars And Rabbit. Sebaiknya Anda menikmatinya juga.

Berbahagialah kamu

Jangan lagi kudengar keluh kesahmu tentang rumah ataupun pekerjaanmu

Bukankah itu semua keinginanmu

Supaya aku bisa berbahagia sebagaimana kamu

Advertisements

Siang nan Misterius Mistis: Let Me Begin-The Milo

Seorang kawan menawarkan CD The Milo, The Photograph. Suatu saran unik untuk mendengarkan band yang tak pernah saya dengar sebelumnya, “dengerin ini bagus deh, tapi alirannya agak misterius mistis gitu”. Misterius mistis? Ini aliran gaya bermusik yang dimainkan atau semacam aliran sesatkah sebenarnya. “Maksudnya?” “Lagu-lagu mereka tidak didominasi oleh suara vokal sang vokalis.” Oke lah saya akhirnya untuk pertama kalinya saya mendengarkan The Milo.

Setelah mendengarkan The Milo, akhirnya saya dapat mengerti apa yang dimaksud oleh kawan saya itu. Tapi hanya beberapa kali saja kemudian saya lama tak lagi mendengarkannya. Sampai suatu kala saya membaca twit bahwa The Milo akan merilis album Let Me Begin dalam bentuk piringan hitam. Kebetulan saya yang saat itu sedang keranjingan piringan hitam ikutlah berburu piringan hitam. Saya membeli paket seharga Rp 500.000 yang ditawarkan oleh pengelola cendera mata The Milo, berisi piringan hitam, cakram digital, t-shirt, stiker, dan tote bag. Tak lupa tanda tangan setiap anggota band memenuhi sampul piringan hitam dan cakram digital.

20150507_125333

Asik juga mendengarkan The Milo, memberi angin segar buat saya yang tak bisa bernyanyi ini. Masih ada kesempatan buat jadi anak band yang tak pandai bermain alat musik. Mungkin saya bisa mengisi vokal dengan suara-suara erangan yang disenikan. (Hahaha, apa pula lah. Semakin tak tahu diri saja ya)

Mendengarkan The Milo membuat saya terbawa ke dunia yang berbeda. Jika panas menyengat datang kala mentari sedang bersemangat kadang kita kalah semangat, siapa yang bisa menahan godaan untuk bermalas-malasan ria, bermain air atau menikmati es teler yang menggoda. Oh, feel so lazy now… Bermalas-malasan sambil menatap langit birupun kadang menyejukan, blue is cool. Dan panas yang menyengat itu hanya butuh satu matahari saja, that’s just one sun that burns our day, perfect world. Tapi yang sempurna itu tak pernah ada, dan kita hanya terjebak di dunia semu. Saat yang paling sulit dipahami adalah saat-saat berpisah. Bahkan tak sesulit saat kita mengerjakan integral ganda atau sekedar limit tak berhingga, it’s broke. Mungkin sianida dapat membantu, membiarkan malaikat itu menjerat diri. Bagaimana kekosongan jiwa yang meratap saat saat yang paling terkasih hanya bermain-main dengan rasa kemudian pergi seperti malaikat. Malaikat yang dulu selalu menciptakan romansa, malam-malam yang romantis, romantic purple. Malaikat itulah yang dulu datang dari surga, mempesona, jatuh cinta, Lolita. Atau jiwa yang menumbuh-suburkan sisi kelam hidup dan yang bisa dilakukan hanya belas kasihan agar diluputkan dari kelam yang semakin membutakan. Dan pasti akan menyenangkan untuk akhirnya bisa juga meletakan kepala pulang sambil menikmati langit yang biasanya biru tapi kenyataannya tak sebiru yang kita bayangkan, langit seharusnya biru. Setelah yang dilalui sekian banyak, keindahan, kejatuhan, impian semua, harusnya kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih bisa pulang, ke tempat di mana seharusnya kita berada, the place.

Seperti dalam surat yang disampaikan kepada pendengarnya, album ini sangat pas dinikmati di siang hari yang panas di temani es teh manis. Perpaduan sederhana yang menyenangkan.

Serasa membaca surat yang dibuat khusus untuk saya, surat yang cukup pribadi. Seperti tuntunan untuk mengenal diri sendiri. Dalam suratnya pun, diceritakan bagaimana jalan panjang karya diciptakan, ditumbuhkan, kemudian dirumahkan dalam Let Me Begin. Dan potongan dari surat itu:

Let Me Begin. Sebuah ucapan. Ungkapan. Pernyataan. Pengakuan. Sebutlah dia apa saja yang engkau mau, yang jelas dengan terngiangnya nada-nada serta kata-kata dalam Malaikat, Romantic Purple atau Broke pada telinga anda setidaknya garis tipis – kehampaan – antara harapan dan keputus-asaan telah menemukan seorang pendengar. nishkara, bandung, januari 2002

Selamat menikmati siang nan terik di musim kemarau yang datang seperti sarik.

Kapan Ke Banda Neira: Berjalan Lebih Jauh-Banda Neira

Berjalan Lebih Jauh

Saat membuka pemutar audio yang tersedia pada komputer jinjing, album Banda Neira, Berjalan Lebih Jauh menggoda untuk di dengar. Lalu saya putarlah album tersebut.

Ingin ikut bernyayi sekeras-kerasnya karena suara bagus sedang tak ada orang lain di rumah juga. Tapi lirik lagu yang menyertai CD album tersebut entah ke mana. Baru ingat kemudian, di cari sampai (kalau kata guru matematika semasa SMU dulu) nenek-nenek perawan lagi juga tak bakal ketemu, karena buku kecil yang berisi lirik lagu tersebut sudah saya berikan kepada seorang kawan yang saat itu menghilangkan buku lirik lagu Berjalan Lebih Jauhnya karena sedang keranjingan gegitaran dengan lelagu Banda Neira yang membawanya ke mana-mana kemudian tak tahu di mana benda itu menghilang.

Lalulah saya mendengarkan album penuh Berjalan Lebih Jauh sambil menulis liriknya, seperti yang saya lampirkan di atas. Kalau ada yang salah, mohon perbaikannya. Kadang-kadang telinga suka tak beres, sepertinya terlalu sering keberisikan suara kereta ekonomi.

Kapan ya ke Banda Neira ditemani Banda Neira dari pemutar lagu?

Roller Coaster Hidup: Api Di Dalam-KarnaTra

Pertama kali mengenal KarnaTra lewat majalah Rollingstone Indonesia yang menyebarkan single Pusara dalam album Api Di Dalam secara gratis. Walaupun tidak mengerti maksud dari lirik yang disampaikan, namun irama yang menyenangkan membuat saya menikmati lagu ini. Tapi katanya begitulah band indie membuat lirik lagu, mereka membuat pendengarnya bebas merepresentasikan maksud dari lirik lagunya. Atau tergantung dari sisi pendengarnya. Jika pendengarnya sedang jatuh cinta, irama musik yang didengar akan selalu menyenangkan (walaupun sebenarnya lagunya, lagu kelam. Tetap saja jadi lagu yang enak didengar). Atau jika pendengar sedang patah hati, maka lirik lagunya yang jadi perhatian. Jadi teriris-iris hati ini (ups…).

Saya memutuskan untuk membeli album Api Di Dalam. Sedikit perjuangan untuk bisa menikmati album ini, karena yang jual CD pakai acara salah mengirimkan CD yang saya minta.

Mendengarkan album Api Di Dalam membuat saya ngelamun merenungkan kalau hidup kadang sedih tapi bisa berganti suka dengan begitu saja, seperti roller coaster, perlahan naik tapi tetiba terjun bebas. Dalam album ini terdapat lelagu yang mewakili perasaan senang, sedih, dendam, rindu yang biasa dalam kehidupan.

Seperti lagu Kites yang bisa Anda dengar pada tautan dari akun soundcloud mereka di atas, selalu membuat saya terbayang suasana pasar malam yang meriah, rame, seru, riang, kembang api, rumah hantu, tong setandan bianglala. Atau lagu Libra yang mengingatkan pada ‘sang mantan’ dan rencana-rencana pembalasan yang kejam. Tapi Api Di Dalam, seperti sahabat yang menenangkan saat emosi nyaris meledak. Belum lagi Arman Dhani yang begitu ingin membahagiakan si Gadis Hujan.

Dan bagaimana syahdunya suasana saat dalam perjalan dengan kereta, menyandarkan kepala di jendela sambil menatap keluar mentari yang perlahan pulang ke peraduan saat terdengar dari pemutar musik….

Ku dengar senja bernyanyi merdu

Lewat jingga bahasa yang nyaris sempurna

Tersadar…. Kau tak berapa jauh

Jika didengarkan melalui piringan hitam sepertinya lebih dramatis, ah drama saja……..

Salam