Orang Bijak Taat Pajak: Antara Disiplin, Gengsi atau Tak Tahu?

Iklan layanan masyarakat tentang pajak yang terkenang dalam ingatan adalah mantan tagline orang bijak taat pajak yang melegenda itu. Jadi kalau ingin disangka bijak, bayarlah pajak bukannya memutihkan rambut atau memperpanjang alis.

Ini hanya kisah yang dua tahun berturut-turut saya perhatikan terjadi di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak D.I. Yogyakarta. Kantor pajak yang ada di jalan lingkat utara melayani daerah kabupaten Sleman dan Kulon Progo. Ruang sebelah barat lantai 1 adalah pelayanan untuk kabupaten Sleman dan ruang sebelah timur pelayanan kabupaten Kulon Progo. Jelang hari-hari terakhir pelaporan pajak tahunan, kantor pajak bergalau.

Tahun lalu saya datang ke kantor pajak ini untuk meminta efin yang diperlukan untuk pelaporan SPT online. Antrean pelapor pajak di sisi barat kantor sangat panjang, sampai ke halaman kantor. Disediakan pula tenda dan kursi untuk para wajib pajak itu. Beratus-ratus nomor antrean. Mendatangi bagian informasi dengan banyak pertanyaan yang sudah saya siapkan?

“Kalau mau lapor SPT tahunan bagaimana pak?”
“Isi ini dulu, penghasilan dibawah Rp 60.000.000 kan?”
“Iya pak. setelah itu bagaimana?”
“Setelah itu ambil nomor antrean, nanti dipanggil. Tapi ini sudah sore, sudah jam empat, jadi antreannya sudah ditutup. Besok saja lagi mbak.”
“Terus, antrenya di mana pak?”
“Yang sebelah barat ini antrean untuk wilayah Sleman, yang sebelah timur antrean untuk wilayah Kulon Progo. Mbaknya dari mana?”
“Saya dari Palangkaraya pak, tapi bisa kan lapornya di semua kantor pajak seluruh Indonesia?”
“Oh, iya mbak. Bisa.”
Lalu iseng lah saya menanyakan, kerena melihat situasi dan kondisi yang ramai sebelah saja kantor pajak ini. “Kalau bisa lapor di mana saja di seluruh Indonesia, bolehkan pak yang masuk wilayah Sleman lapor di kantor pajak Kulon Progo?”
“Boleh mbak.”
“Tapi kok yang di Kulon Progo antreannya tidak seberapa banyak ya?”
“Ya, itu juga saya tidak tahu mbak. Kenapa orang-orang lebih suka antre di kantor barat dari pada yang timur. Dan selalu begitu.”

Besoknya saya datang kembali, langsung saja mengarah ke bagian kantor timur. Saya beritahukan keperluan saya dan langsung diarahkan ke semacam costumer service-nya gitu. Saya meminta efin dan sambil menunggu saya menanyakan apakah saya bisa melapor langsung saat itu juga laporan SPT. Dan ternyata bisa, dan selesai lah urusan laporan SPT dan efin juga saya dapatkan. Beres. Tak sampai 5 menit, selesai.

Tahun ini, tengok lah beberapa hari lalu kantor pajak itu, suasananya masih sama, rasanya ingin tertawa saja dan saya, lapor SPT online saja. Gampang dan tak perlu lampiran yang lain-lain.

Advertisements

Adik Ambisius dan Remaja Sang Juara (Hati): Hanya Iklan

Sebuah iklan mie instan yang sebenarnya biasa saja, tapi jadi mengelitik karena ada iklan tentang kendaraan bermotor roda dua teknologi mutakhir.

Baiklah, saya ceritakan satu-persatu saja supaya Anda tahu maksud menggelitik yang saya maksud.

Ada dua adik tingkat Sekolah Dasar (SD) yang sedang berlomba, semacam cerdas-cermat tampaknya. Saat saya SD dulu, lomba cerdas-cermat memang prestise, paling tidak untuk saya lah. Tokoh utama dalam cerita ini ternyata kalah lomba cerdas-cermat. Tokoh utama ini begitu sedih, kecewa, segala duka sambil menceritakan kekalahannya, bahwa dulu kala diapun pernah jadi juara cerdas-cermat itu kepada ibunya. Sang ibu mencoba mengusir mendung kecewa dengan menyajikan semangkuk mie instan lengkap dengan potongan ayam, telur serta sayuran. Sepertinya enak, tapi saat saya membuat sendiri mie instan tersebut tak seenak yang saya lihat di televisi itu.

Tapi bukan tentang mie instan yang akan saya bicarakan, tetapi sikap adik anak SD tokoh utama bintang iklan produk mie instan itu. Kalah lomba cerdas-cermat sudah begitu dukanya dia, bukankah menang atau kalah hal yang biasa dalam perlombaan, tapi itu masalah buat si adik tadi sampai iya makan mie instan tentunya, dia bisa kembali tersenyum.

Bandingkan dengan remaja yang menjadi bintang dalam iklan kendaraan bermotor roda dua (auto)matic dengan teknologi paling mutakhir. Katanya sih ini tentang pilihan, dua pernyataan utama yang bisa saya ingatadalah “kalau yang lain ngeband atau pacaran, kita melakukan keduanya” begitu kurang lebih penyataan mereka. Ini masih biasa sih sambil menyelam sambil minum lah kalau menurut saya, efisien. Yang bikin geregetan menggelitik adalah penyataan selanjutnya, “jika yang lain jadi juara lapangan atau jadi juara kelas, kita jadi juara di hatinya”.

Nah, narasi kedua ini lah yang mengelitik. Remaja yang sudah bisa pergi pagi pulang malam dengan kendaraan roda dua sudah cukup dengan pencapaian juara di hatinya itu sungguh sangat amat menyedihkan buat saya. Mas, mbak yang naik motor tidak malu kah sama adik SD yang sudah bisa tersenyum kembali dengan makan mie instan?

Marilah kita makan mie instan saja, supaya walau kita kecil kita punya ambisi yang besar dan saat ambisi saja tidak cukup, masih ada mie instan buatan mamah yang mengembalikan senyum kita.