Siang nan Misterius Mistis: Let Me Begin-The Milo

Seorang kawan menawarkan CD The Milo, The Photograph. Suatu saran unik untuk mendengarkan band yang tak pernah saya dengar sebelumnya, “dengerin ini bagus deh, tapi alirannya agak misterius mistis gitu”. Misterius mistis? Ini aliran gaya bermusik yang dimainkan atau semacam aliran sesatkah sebenarnya. “Maksudnya?” “Lagu-lagu mereka tidak didominasi oleh suara vokal sang vokalis.” Oke lah saya akhirnya untuk pertama kalinya saya mendengarkan The Milo.

Setelah mendengarkan The Milo, akhirnya saya dapat mengerti apa yang dimaksud oleh kawan saya itu. Tapi hanya beberapa kali saja kemudian saya lama tak lagi mendengarkannya. Sampai suatu kala saya membaca twit bahwa The Milo akan merilis album Let Me Begin dalam bentuk piringan hitam. Kebetulan saya yang saat itu sedang keranjingan piringan hitam ikutlah berburu piringan hitam. Saya membeli paket seharga Rp 500.000 yang ditawarkan oleh pengelola cendera mata The Milo, berisi piringan hitam, cakram digital, t-shirt, stiker, dan tote bag. Tak lupa tanda tangan setiap anggota band memenuhi sampul piringan hitam dan cakram digital.

20150507_125333

Asik juga mendengarkan The Milo, memberi angin segar buat saya yang tak bisa bernyanyi ini. Masih ada kesempatan buat jadi anak band yang tak pandai bermain alat musik. Mungkin saya bisa mengisi vokal dengan suara-suara erangan yang disenikan. (Hahaha, apa pula lah. Semakin tak tahu diri saja ya)

Mendengarkan The Milo membuat saya terbawa ke dunia yang berbeda. Jika panas menyengat datang kala mentari sedang bersemangat kadang kita kalah semangat, siapa yang bisa menahan godaan untuk bermalas-malasan ria, bermain air atau menikmati es teler yang menggoda. Oh, feel so lazy now… Bermalas-malasan sambil menatap langit birupun kadang menyejukan, blue is cool. Dan panas yang menyengat itu hanya butuh satu matahari saja, that’s just one sun that burns our day, perfect world. Tapi yang sempurna itu tak pernah ada, dan kita hanya terjebak di dunia semu. Saat yang paling sulit dipahami adalah saat-saat berpisah. Bahkan tak sesulit saat kita mengerjakan integral ganda atau sekedar limit tak berhingga, it’s broke. Mungkin sianida dapat membantu, membiarkan malaikat itu menjerat diri. Bagaimana kekosongan jiwa yang meratap saat saat yang paling terkasih hanya bermain-main dengan rasa kemudian pergi seperti malaikat. Malaikat yang dulu selalu menciptakan romansa, malam-malam yang romantis, romantic purple. Malaikat itulah yang dulu datang dari surga, mempesona, jatuh cinta, Lolita. Atau jiwa yang menumbuh-suburkan sisi kelam hidup dan yang bisa dilakukan hanya belas kasihan agar diluputkan dari kelam yang semakin membutakan. Dan pasti akan menyenangkan untuk akhirnya bisa juga meletakan kepala pulang sambil menikmati langit yang biasanya biru tapi kenyataannya tak sebiru yang kita bayangkan, langit seharusnya biru. Setelah yang dilalui sekian banyak, keindahan, kejatuhan, impian semua, harusnya kita masih bisa bersyukur bahwa kita masih bisa pulang, ke tempat di mana seharusnya kita berada, the place.

Seperti dalam surat yang disampaikan kepada pendengarnya, album ini sangat pas dinikmati di siang hari yang panas di temani es teh manis. Perpaduan sederhana yang menyenangkan.

Serasa membaca surat yang dibuat khusus untuk saya, surat yang cukup pribadi. Seperti tuntunan untuk mengenal diri sendiri. Dalam suratnya pun, diceritakan bagaimana jalan panjang karya diciptakan, ditumbuhkan, kemudian dirumahkan dalam Let Me Begin. Dan potongan dari surat itu:

Let Me Begin. Sebuah ucapan. Ungkapan. Pernyataan. Pengakuan. Sebutlah dia apa saja yang engkau mau, yang jelas dengan terngiangnya nada-nada serta kata-kata dalam Malaikat, Romantic Purple atau Broke pada telinga anda setidaknya garis tipis – kehampaan – antara harapan dan keputus-asaan telah menemukan seorang pendengar. nishkara, bandung, januari 2002

Selamat menikmati siang nan terik di musim kemarau yang datang seperti sarik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s