CARA PANDANG YANG BERBEDA: NOAH (2014)-DARREN ARONOFSKY

Akhirnya berhasil juga menulis ulasan tentang film yang saya tonton. Sebenarnya sudah sejak awal pembuatan blog ini, saya merencanakan untuk membuat ulasan tentang film. Kesampaian juga.

Suatu kali saya membaca suatu renungan yang ditulis oleh Arie Saptaji yang diterbitkan oleh Yayasan Gloria pada Kamis, 2 Juli 2015. Arie memberi ilustrasi pengantar renungan dengan penggambaran nabi Nuh yang terdapat dalam film Noah garapan Darren Arosnofsky.

Saya mendapat salinan film tersebut dari seorang kawan. Kemudian mengertilah saya kenapa film tersebut dilarang tayang di Indonesia. Mungkin karena sudut pandang yang berbeda dari yang biasa diketahui orang (Indonesia) pada umumnya jugalah yang membuat film ini akhirnya tidak tayang di Indonesia. Menurut saya tak ada yang salah dari penggambaran Arosnofsky tentang Nuh, bahkan mungkin Arosnofsky lebih memahami lebih dalam siapa Nuh daripada saya yang notabene tidak pernah ikut sekolah minggu semasa bocah (kemudian saya dianggap sesat pula 😥 ). Tidak mungkinlah Arosnofsky tidak melakukan penelitian tentang Nuh sewaktu ia menulis kisah yang kemudian menjadi sebuah film ini. Ada sisi baik dan buruk Nuh yang mungkin ditemui Arosnofsky saat melakukan pendalaman kisah Nuh dan ditampilkannya dalam karakter Nuh dalam filmnya.

Dalam film Noah, Nuh (Russell Crowe) ditampilkan sebagai keturunan nabi Adam yang dipilih Sang Pencipta untuk menyelesaikan misiNya memusnahkan peradaban dunia dengan air bah yang dasyat. Kalau menurut Arie (Kejadian 6:1-7), Nuh adalah termasuk ke dalam angkatan yang jahat pada kala itu. Nuh dipilih bukanlah karena dia orang baik namun hanya semata karena kehendakNya, karuniaNya. Bukan karena dia orang baik, tapi kerena Sang Pencipta tahu Nuh dapat menyelesaikan misi yang diembankan kepadanya.

Nuh hanya manusia biasa. Nuh bahkan harus berpikir dengan otaknya sendiri kemudian meminta saran dari kakeknya hanya untuk mengerti maksud Sang Pencipta. Seperti manusia biasa lainnya Nuh juga tak dapat menjauhkan diri dari sikap menghakimi diri dan orang lain. Dia kemudian menganggap dirinya bersalah karena sekali lagi menurutnya tak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Nabi saja bisa melakukan kesalahan yang tidak disadarinya, apalagi saya yang manusia biasa. Tapi kata teman saya yang lagi puasa media sosial mah, “siapa lu bisa menentukan orang lain dosa apa enggak?”

Tak sama persis dengan kisah yang biasa kita dengar bukan berarti salah kan? Tentu saja Arosnofsky menambah kisah yang membuat film ini layak untuk ditonton. Kalau film ini penulisannya dibuat sama dengan kisah-kisah anak sekolah minggu, mungkin film 2 jam lebih ini akan sangat membosankan.

Dalam film ini seperti ingin menunjukkan bahwa nabi, orang yang terpilih itu sejatinya adalah manusia biasa, dia bisa salah seperti manusia lainnya. Dia bisa memilih apa yang baik menurut hati nuraninya, tapi kadang kegagalan juga bisa membuat terpuruk. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Mungkin saat kita merasa gagal, kita perlu rehat sejenak kemudian meihat dari sudut pandang yang berbeda bahwa kegagalan yang kita rasakan adalah jalan lain menuju keberhasilan.

Yuk lihat lebih banyak supaya hidup yang sudah sesak tak tambah menjadi pelak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s