SEPOTONG SURAT CINTA: PAPANDAYAN

Pelesiran kali ini adalah di mana saya dapat menikmati tatkala rimba melabuh senja berkabutkan ragu bisu biarkan risau bergulir kisruh bentang bintang berkasih pilu[1] tak habis di langit malam dengan tangan tergenggam hingga membuat jantung berdegup kencang. Tenang saja, tak seromantis yang dibayangkan. Tulisan kali ini adalah hiperbola belaka, mungkin perlu saya tambahkan tagar fiksi supaya Anda yakin bahwa terlalu banyak bualan dalam kisah ini.

Gunung Papandayan bukan lah teman lama saya, tapi dengan kawan lama lah saya berjumpa dengan gunung Papandayan. Kawan semasa kuliah dulu kala, sebenarnya sih dulu saya agak mengidolakan beliau ini, sampai pacar saya sewaktu itu agak cemburu kepadanya.

Kawan saya bercerita akan ke Papandayan suatu akhir pekan, tanpa pikir panjang saya mengajukan diri untuk ikut. Dan akhirnya saya menghabiskan akhir pekan di Papandayan. Pertemuan saya dengan kawan yang satu ini setelah sekian tahun tak bertemu, biasa saja. Percakapan kecil yang menggelitik membuka pertemuan kami yang entah berapa lama tak bersua lagi.

“Berapa tahun kita nggak ketemu ini?”

“Iya eh, dah lama ya ternyata.”

“Masih kurus aja.”

“Iya, kamu juga.”

“Makanya kawin.”

“Hahaha, kamu juga lah. Emang kawin bisa bikin tambah gemuk.”

“Ya tergantung, kawin bikin bahagia nggak.”

“Hahaha.”

Kami mengakhiri tawa dengan tos. Tapi dalam hati rasanya saya berkata “sial!”

Malam di Papandayan, huadem bener. Dingin berrrrr. Mungkin karena sudah memasuki musim kemarau, jadi suhu udara di kala malam duingin banget. Tapi langit malam itu besih, cerah. Gugusan bintang dan bima sakti yang dulu saat SMA dijelaskan pak Mardianta[2] tetiba muncul dengan jelasnya tanpa berusaha mengenali sedikitpun. Bahkan bulan juga tak malu-malu lagi menampakan diri. Kekawanan lain bahkan bersedia menunggu bulan terbenam hanya untuk mendapatkan foto gugusan bima sakti yang cantik nian.

Dan saya hanya bisa memandang gugusan bintang yang cantik belaka di malam yang dingin, bersama seorang kawan lama. Kami saling bergenggam tangan, bukan hendak menciptakan romansa tapi karena kedinginan. Bahkan saya sudah tak bisa merasakan ujung jari saya. Padahal saya sudah menggunakan sarung tangan tapi tetap duingin cuy.

Dan sayang sekali bukan pula adegan menatap bintang sambil berpegangan tangan yang membuat jantung saya berdebar. Tapi saat tidur masuk dalam tenda. Walaupun sudah berbalut jaket dan masuk ke dalam sleeping bag, saat rebah saya masih dapat merasakan dingin menyerabak menjalar di sepanjang punggung saya. Dan kedinginan itu lah yang membuat jantung saya berdebar. Dan saya memutuskan untuk tidur dalam posisi duduk, entah tidur kah, entah tidak. Yang saya ingat setiap jam sepertinya ada yang menanyakan, “sekarang jam berapa?” Dan waktu seperti terhenti ikut kedinginan.

Matahari adalah hal yang menyenangkan buat saya kala itu. Saya rela kulit saya terbakar daripada harus deg-deg-an lagi kedinginan.

Setelah saya kembali ke Yogjakarta, lalu tetiba saya teringat teman lama, kamu bikin kangen juga ternyata. Kapan bisa jumpa lagi, ada sepotong surat cinta untuk mu.

[1] Lirik lagu Bentang Bintang-Marsh Kids

[2] Guru Fisika semasa SMU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s