Adik Ambisius dan Remaja Sang Juara (Hati): Hanya Iklan

Sebuah iklan mie instan yang sebenarnya biasa saja, tapi jadi mengelitik karena ada iklan tentang kendaraan bermotor roda dua teknologi mutakhir.

Baiklah, saya ceritakan satu-persatu saja supaya Anda tahu maksud menggelitik yang saya maksud.

Ada dua adik tingkat Sekolah Dasar (SD) yang sedang berlomba, semacam cerdas-cermat tampaknya. Saat saya SD dulu, lomba cerdas-cermat memang prestise, paling tidak untuk saya lah. Tokoh utama dalam cerita ini ternyata kalah lomba cerdas-cermat. Tokoh utama ini begitu sedih, kecewa, segala duka sambil menceritakan kekalahannya, bahwa dulu kala diapun pernah jadi juara cerdas-cermat itu kepada ibunya. Sang ibu mencoba mengusir mendung kecewa dengan menyajikan semangkuk mie instan lengkap dengan potongan ayam, telur serta sayuran. Sepertinya enak, tapi saat saya membuat sendiri mie instan tersebut tak seenak yang saya lihat di televisi itu.

Tapi bukan tentang mie instan yang akan saya bicarakan, tetapi sikap adik anak SD tokoh utama bintang iklan produk mie instan itu. Kalah lomba cerdas-cermat sudah begitu dukanya dia, bukankah menang atau kalah hal yang biasa dalam perlombaan, tapi itu masalah buat si adik tadi sampai iya makan mie instan tentunya, dia bisa kembali tersenyum.

Bandingkan dengan remaja yang menjadi bintang dalam iklan kendaraan bermotor roda dua (auto)matic dengan teknologi paling mutakhir. Katanya sih ini tentang pilihan, dua pernyataan utama yang bisa saya ingatadalah “kalau yang lain ngeband atau pacaran, kita melakukan keduanya” begitu kurang lebih penyataan mereka. Ini masih biasa sih sambil menyelam sambil minum lah kalau menurut saya, efisien. Yang bikin geregetan menggelitik adalah penyataan selanjutnya, “jika yang lain jadi juara lapangan atau jadi juara kelas, kita jadi juara di hatinya”.

Nah, narasi kedua ini lah yang mengelitik. Remaja yang sudah bisa pergi pagi pulang malam dengan kendaraan roda dua sudah cukup dengan pencapaian juara di hatinya itu sungguh sangat amat menyedihkan buat saya. Mas, mbak yang naik motor tidak malu kah sama adik SD yang sudah bisa tersenyum kembali dengan makan mie instan?

Marilah kita makan mie instan saja, supaya walau kita kecil kita punya ambisi yang besar dan saat ambisi saja tidak cukup, masih ada mie instan buatan mamah yang mengembalikan senyum kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s