Kita Adalah Apa Yang Kita Baca: The Naked Traveler-Trinity

If we are what we read, then we are never enough-M Aan Mansyur

Jika kita adalah apa yang kita baca, maka kita tidak akan pernah cukup. Begitu kira-kira terjemahan bebas saya dari status Twitter M Aan Mansyur. Dan benar lah adanya, setidaknya untuk saya.

Membaca itu biasanya dipasangkan dengan menulis. Bahkan pelajaran pertama saat saya di sekolah dasar adalah baca-tulis. Dan itu juga yang terjadi pada gaya penulisan dalam halaman ini juga. Bandingkan tulisan saya Belajar Berbahasa Indonesia (lagi): Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek-Mochtar Lubis dengan tulisan Pelesir saya. Tentu saja saya membaca buku Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek karya Mochtar Lubis, maka kemudian saya dapat menulis ulasan buku tersebut.

Saat menulis Bermula dari Bogor dan 8 Tahun Lagi, kebetulan saya sedang membaca buku Trinity-The Naked Traveler. Dan saya terbawa, bukan kebetulan (karena tidak ada yang kebetulan, yang ada adalah kode) pula yang saya tuliskan tentang pelesiran sama seperti apa yang saya baca.

Saya membeli paket buku The Naked Traveler yang berisi empat buku. Karena harga paketan, saya mendapat tambahan potongan harga masing-masing 5% untuk masing-masing buku, lumayan lebih irit.

The Naked Traveler menurut saya merupakan bacaan ringan. Saya menyelesaikan keempat buku tersebut hanya dalam empat hari. Itu adalah rekor membaca tercepat saya dalam keadaan santai, bukan dalam keadaan stress atau dalam perjalanan. Karena anehnya jika saya sedang stress (biasanya karena ada tenggat mendesak) atau sedang dalam perjalan kecepatan membaca saya meningkat pesat.

Buku berwarna kuning ngejreng terbitan B First ini menceritakan pengalaman pelisiran Trinity sejak tahun 1990an sampai tahun 2012. Buku ini tidak menceritakan bagaimana Trinity melakukan setiap perjalanannya, tetapi mengelompokan beberapa kisah dalam perjalanannya berdasarkan kejadian-kejadian yang serupa. Misalkan kejadian-kejadian yang dialami Trinity di bandar udara dalam ‘Airport’, Indonesiana’ yang menceritakan beberapa liburan di Indonesia timur, atau rasa sedih dan haru bahkan sedikit kesal dalam ‘Hiks!’, juga tempat-tempat yang bisa jadi bonus kita datangi untuk ‘Jalan-Jalan Murah’.

Menyenangkan membaca buku ini, selain ringan dan tidak membuat saya berpikir keras dalam membacanya, muncul juga perasaan sedih, haru, bangga, dan kadang bisa dibuat tertawa saya membaca buku ini.

Akan jadi referensi yang bagus dan menyenangkan tentunya bagi yang menyukai pelesiran tentunya. Buku ini menyenangkan, seperti saya. Walaupun dalam buku ini tidak hanya pengalaman menyenangkan saja. Tapi seperti juga dalam kehidupan nyata mungkin mba Trinity mau mengajarkan kita, saya bahwa hidup itu perjalanan yang menyenangkan kadang mengesalkan, tapi pasti akan menyenangkan mengingat semuanya dengan cara yang menyenangkan. Membaca ditemani lagu kesukaan atau secangkir kopi, mungkin.

Ah, terlalu banyak kemungkinan. Nikmati saja dan baca lagi.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s