BERMULA DARI BOGOR

The Naked Traveler adalah tantangan yang menyenangakan dan merupakan titik kebangkitan bagi semua orang yang dunia travelling-nya hanya bermula di Bogor dan berakhir di Bali.-Daniel Ziv, penulis buku Jakarta Inside Out, sutradara film Jalanan. ­

Pernyataan tersebut saya temukan di buku Trinity-The Naked Traveler 1. Pernyataan itulah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menulis ini dan menambahkan satu kategori lagi dalam halaman ini, pengalaman saya jejalanan.

Perjalanan saya mulai dengan ketera malam menuju Jakarta ditemani dengan buku kumpulan cerita pendek M. Aan Manyur, Kukila. Belum lagi sampai di Jakarta, bacaan saya sudah tamat. Belum lagi saya jadi terobsesi mencari pilang saya sesampainya di Kebun Raya Bogor nanti. Sayangnya pohon yang saya dambakan itu ada di halaman Istana Bogor dan saya sebagai rakyat jelata tidak diperbolehkan berkeliaran di halaman istana. Tapi saya menemukan pohon tikus mati (dulu pernah diributin teman-teman kos di Cepu dan bikin nama sendiri karena tidak mengetahui nama pohon aneh itu), yang ternyata juga ada di halaman tempat kerja saya.

IMG_6553

Pemandu wisata teman saya payah, sudah lama tinggal di Bogor namun tak tahu tempat yang menyenangkan yang bisa kami datangi, kecuali Kebun Raya Bogor tentunya. Maka saya mengajak teman saya ke kaki gunung Salak dengan bantuan Google Map tentunya. Tujuan pertama saya adalah Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Tamansari, atau lebih dikenal dengan Pura Siliwangi. Sayangnya kami tidak bisa masuk karena sedang ada pekan acara khusus, sehingga pelancong umum tidak bisa masuk. Tidak ingin piknik hari ini berakhir dengan antiklimaks, kamu mencari tempat lain, Curug Nangka.

Saya memang membawa celana pendek supaya bisa main air, namun sepertinya saya salah perhitungan. Karena akan menyenangkan jika saya bawa baju ganti sekalian jadi lah saya tak dapat ikutan nyempung ke air.

IMG_6749

Karena sampai di curug bertepatan dengan saat makan siang, jadi lah baru main air sebentar, eh sudah lapar. Untungnya ada banyak yang jualan makanan-makanan seadanya untuk mengganjal perut. Walaupun cuma mie instan tapi sambil lihat pemandangan jadinya enak juga, entah enak, entah lapar.

IMG_6645

Curug Nangka satu kawasan dengan Curug Daun dan Curug Kawung. Dan Curug Kawung itu keren banget sih.

IMG_6437

*

Karena saya kehabisan kereta, jadilah mundur sehari untuk kembali ke Jogja. Masih ada satu hari lagi main di Bogor deh. Kami pergi ke arah puncak. Teman saya mengajak ke Kota Bunga, kata temannya sih OK. Tapi saya mengajak ke Telaga Warna saja. Ibu kos tempat saya menginap menyarankan untuk ke perkebunan teh. Dalam perjalanan belum lagi sampai, hujan turun. Kami berteduh, sambil makan siang, mie instan lagi. Jangan sampai antiklimaks lagi deh.

Hujan reda. Tanya-tanya sama teteh yang jualan katanya Telaga Warna sudah dekat kok. Jadilah teman saya juga ikut meneguhkan hati ke Telaga Warna saja. Dan tempat ini serba hijau, kebun teh-nya berwarna hijau, telaganya warna hijau juga. Banyak monyet ekor panjang berkeliaran juga. Ada jalur selajah hutannya juga, awas banyak pacet.

*

Lanjutlah kunjungan balasan di Jogja. Hari pertama di Jogja kami pergi ke Gunung Api Purba Nglangeran, yang sedang penuh-penuhnya karena hari minggu. Kemudian lanjut ke Candi Ratu Boko. Banyak tanbahan bangunan candi yang sudah berhasil digali dan direkonstruksi dibanding pertama kali saya ke Ratu Boko sebelumnya. Tapi pelataran setelah pintu gerbang candi yang dulunya hijau enak dipandang mata[1], jadi coklat kering, karena musim kemarau sih sepertinya.

*

Hari kedua saya mengajak teman saya itu ke Sendang Sono. Kami membeli lilin devosi, yang terdiri dari dua lilin. Satu doa minta jodoh, satunya lagi buat dapat kerjaan. Jadilah kami pegang lilin satu-satu. Tebak deh lilin devosi apa yang saya pegang.

Ada pengalaman entah lucu, entah aneh sebelumnya saat ke Sendang Sono. Saya datang bersama teman lelaki. Seminggu kemudian, eh kita pacaran deh. Kemudian ada celetukan teman yang tahu kalau kami pernah ke Sendang Sono, katanya “berkah dari Sendang Sono ya….”. Baru saya tahu setelah kami tidak pacaran lagi kalau katanya salah satu doa yang manjur jika doa minta jodoh, duh. Padahal waktu itu saya cuma bilang, “Tuhan, saya datang sama teman saya nih” begitu saja.

Kemudian kami ke Borobudur, ini adalah satu-satu tujuan yang membuat teman saya ikut ke Jogja. Kami mengikuti jalur……, yaitu pada tingkat pertama kita memutari candi searah jarum jam sampai titik awal naik tadi kemudian baru naik ke tingkat dua, begitu seterusnya sampai puncak. Kata pemandu wisatanya sih jika mengikuti jalur tersebut kita akan berjalan sepanjang 15 KM. Masa sih, tidak terasa cape sih cuma berasa lapar aja setelahnya.

Kata teman yang bolehlah diambil kutipannya, trevelling itu harus siap, siap mental juga siap biaya. Karena menurutnya, yang sebelumnya sudah pernah ke Borobudur. “Tidak mendapat apa-apa, hanya cape. Tapi sekarang lumayan banyak nambah ilmu.” Sepertinya ini karena setiap ada pelancong (terutama yang mancanegara) yang menggunakan jasa pemandu wisata, kami mlipir-mlipir mendekat, curi dengar informasi tentang Borobudur.

Pulangnya kami langsung ke Pasar Ngasem yang kebetulan sedang ada acara Festival Kesenian Yogyakarta 26. Saat kami datang dan kemudian Answer Sheets manggung, ini kedua kalinya nonton mereka. Sebelumnya mereka menjadi pembuka konser FRAU-Happy Coda.

Teman saya, sibuk dengan pemain bass yang katanya kakinya sexy. Heh.

IMG_7275

*

Saya sudah mulai dari Bogor sebelum saya akhiri di Bali, mungkin saya pergi jejalanan ke tempat lain terlebih dahulu.

***

Foto: Saya dan Pepen

[1] Kumpulan Cerpen karya Ahmad Tohari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s