8 TAHUN LAGI: DARATAN TINGGI DIENG

Tahun lalu saya mengincar akan pergi ke Dieng, ada festival budaya di sana. Saya pun sudah menyelesaikan hutang tesis di kampus. Tapi belum ada rekan perjalanan, parno juga kalau belum punya informasi tentang tempat tujuan dan berangkat sendiri. Jadi di tunda dulu beberapa saat.Sampai akhirnya ada teman yang kebetulan berdomisili di Wonosobo dan juga mau menemani saya jejalanan ke Dieng.

Jadilah kami berdua menggunakan sepeda motor, melaju menuju Wonosobo via Salaman. Baru sampai Salaman, eh udah istirahat aja sambil minum susu gitu. Padahal kata teman saya, kami belum ada ada setengah jalan.

Sampai di Wonosobo, kami langsung ke Dieng. Sepeda motor saya yang berjenis automatik, sampai tidak kuat nanjak. Gas sudah poll, tapi motornya pelan benar, sepelan kalau kita jalan kaki mungkin. Sampai lah kami di desa tertinggi di pulau Jawa, Sembungan. Karena tujuan utama kami adalah melihat matahari terbit di Sikunir. Cari penginapan, istirahat sebentar, jalan sekeliling desa, makan, terus istirahat.

20140919_161834[1]

Penginapan kami cukup murah, Rp 200.000 dan itu serumah yang terdiri dari 3 kamar. Jadi semakin rame akan semakin murah juga patungannya.

Kami menuju Sikunir jam 4 pagi, sebenarnya tidak terlalu jauh menuju puncak Sikunir. Mungkin seperti ke Gunung Api Purba Nglangeran. Berhubung akhir pekan, jadilah kami menyaksikan matahari terbit berjamaah. Tapi tetap cantik kok.

20140920_053647[1] 20140920_053400[1] 20140920_053720[1]

*

Puas memandang matahari terbit, kami lanjut ke Telaga Warna. Sebelumnya juga saya sudah ke Telaga Warna, tapi yang di Bogor. Karena sedang musim kemarau, jadi air telaga agak surut. Hanya saja bau belerangnya cukup kuat. Ada beberapa situs-situs goa di sekitar telaga. Ada batu tulis, yang katanya jika ada anakk yang kurang cerdas bawa aja ke situ. Kemudian ada gua yang sering dijadikan tempat berdoa mohon keturunan. Karena dulunya ada kuda yang berteduh di goa tersebut, besoknya kudanya sudah bunting deh. Saya jadi bercandaan sama teman saya. “Gimana kalau aku masuk doa ini, kemudian kalau sudah punya anaknya dibawa ke batu tulis deh.”

20140920_101254[1] 20140920_104604[1]

*

Kami juga ke komplek Candi Arjuna, yang saat festival kebudayaan Dieng digunakan pagelaran musik jazz. Agak mengecewakan komplek candinya. Selain kepala candi sudah tidak ada (mungkin diselamatkan daripada dicuri), bangunan candi seperti mau roboh. Kata teman saya yang sudah ke komplek Candi Arjuna sebelumnya juga candinya seperti tidak dirawat dengan baik, ada bagian-bagian candi yang lebih kecil yang dulunya ada sekarang tidak ada.

20140920_114420[1]

*

Kami kembali ke Wonosobo, mampir makan makanan khas Wonosobo, mie ongklok dengan sate sapi. Untuk selera saya, ini enak!

IMG-20141201-WA0001[1]

*

Saya jadi teringat sekitar 10 tahun lalu ada kawan yang juga berdomisili di Wonosobo mengajak saya main ke rumahnya. Itu karena saya minta oleh-oleh mie ongklok jika ia pulang, gegara menonton acara wisata di TV yang menampilkan mie ongklok sebagai makanan khas Wonosobo. Saya tak pernah berkesempatan untuk ke Wonosobo waktu itu, 10 tahun kemudian baru saya sampai ke Wonosobo.

2 tahun lalu sebenarnya ada kawan yang mengajak ke Bali dan saya belum berkesempatan lagi. 8 tahun lagi mungkin saya bisa berangkat. Sebelum berakhir di Bali seperti kata Daniel Ziv, sebaiknya saya pergi ke tempat-tempat yang lain terlebih dulu.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s