Belajar Berbahasa Indonesia (lagi): Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek-Mochtar Lubis

Tulisan ini saya buat berdasarkan permintaan teman yang tak tahu harus memilih apa dari pilihan yang saya berikan. Saya menanyakan kepada seorang kawan, tulisan yang akan saya buat pertama kali di laman ini. Pilihan yang saya berikan adalah Cerita Buat Para Kekasih-Agus Noor; Perempuan-Mochtar Lubis; The Perks of Being a Wallflower-Stephen Chbosky; atau Api Di Dalam-KarnaTra. Dan kawan saya itu memilih Perempuan, katanya karena dia juga perempuan (padahal karena dia tidak tahu pilihan yang saya berikan).

Buku ini enak dibaca di mana saja, bentuknya yang mungil (11x17cm) membuatnya gampang dibawa ke mana saja, disakupun bisa masuk. Tampilannya sederhana, sesederhana cerita yang diceritakan di dalamnya. Sampul depan buku ini merupakan lukisan karya pak Lubis sendiri. Buku ini merupakan cetakan kedua yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2010. Edisi pertamanya diterbitakan oleh Timun Mas Jakarta tahun 1956.

Membaca kumpulan cerita pendek ini sebenarnya membuat saya malu dengan perilaku berbahasa Indonesia saya sehari-hari. Saya hanya (berusaha) menggunakan bahasa Indonesia saat mengerjakan tugas kampus dan surat lamaran kerja dan keperluan resmi lainnya. Dalam kumpulan cerita pendek ini, pak Lubis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam semua ceritanya, atau memang belum ada bahasa prokem gaul yang sedang ngetren pada tahun 50an. Tidak seperti saat ini, tulisan-tulisan fiksi hadir dengan bahasa yang sering kita dengar di berbagai media.

Cerita yang disampaikan tentu saja berlatar belakang masa tahun 50an dan menurut saya masih relevan pada masa kini. Cerita yang sangat berkesan buat saya adalah Tabrakan, karena saya pernah melihat cerita yang serupa dalam kehidupan nyata. Bagaimana mungkin pemilik mobil yang mahal meminta ganti rugi pada tukang becak yang menabraknya. Dalam Perempuan kita memahami sudut pandang penulis, bahwa perempuan bisa menyimpan apa saja dalam hatinya. Atau pelajaran moral yang diambil dari pemilik Kebun Pohon Kastanye, bahwa dengan menympan semuanya sendiri belum tentu kita tak akan kehilangan semuanya itu. Atau bagaimana rupa fisik atau kemahiran dalam berkomunikasi dapat memperdaya dengan kita mudah seperti dalam kisah Untuk Perikemanusian dan Si Djamal Anak Merdeka. Dalam satu hisapan rokok pun, kita diajak merenung, bahwa susah-senang itu bisa berganti begitu saja dalam kehidupan.

Tapi saya benar-benar terhibur oleh Pak Siman dan Bini-Bininya, entah ini mengisahkan sesuatu yang lugu atau konyol atau keduanya sekaligus. Saya menikmatinya dan semoga kemampuan berbahasa Indonesia saya menjadi semakin baik.

Tabik.

Advertisements

One thought on “Belajar Berbahasa Indonesia (lagi): Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek-Mochtar Lubis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s