Masa Kanak-Kanak Yang Menyenangkan: Aku, Meps, dan Beps (Soca Sobhita & Reda Gaudiamo) – Na Willa (Reda Gaudiamo)

WhatsApp Image 2017-07-04 at 12.37.58 PMSatu kata yang dapat menggambarkan buku Aku, Meps, dan Beps (Soca Sobhita & Reda Gaudiamo) dan Na Willa (Reda Gaudiamo), menyenangkan. Membaca kedua buku tersebut sangat menyenangkan, membuat senyum saya diam-diam merekah mengingat masa kecil saya. Aku pada Aku, Meps dan Beps, juga Na Willa punya kisah-kisah sederhana semasa kanak-kanaknya, diceritakan dengan cara yang sederhana. Tapi kesederhanaan itulah yang membuat kisah mereka menyenangkan untuk dibaca, sederhana yang menyenangkan.

Saya memajang foto yang sama untuk beberapa akun media social yang berbeda, foto saya sedang berada di sebuah took buku di Yogyakarta, membaca buku. Buku yang saya di foto itu adalah Aku, Meps, dan Beps. Saya mengetahui buku Aku, Meps, dan Beps dari unggahan akun Instagram Post Santa, yang membuatnya menarik karena salah satu penulisanya adalah salah satu penyanyi idola kawan saya yang kebetulan saat itu akan saya temui di toko buku itu, ya dia lah yang mengambil foto itu.

Salah satu yang diceritakan Aku tentang Beps adalah kalau buat telor mata sapi, bisa kriyes di bagian pinggirnya. Sorenya saya membuat indomie goreng tak lupa dengan telor mata sapi yang kriyes bagian pinggirnya, sungguh menyenangkan.

Ada dua judul Radio di kisah Na Willa, yang membuat saya mengingat masa kanak-kanak saya dengan radio juga. Saya tentu saja punya kisah dengan radio yang berbeda dengan Na Willa. Semasa kanak-kanak keluarga saya tinggal di rumah dinas yang adalah barak-barak rumah. Sayangnya kami tidak tinggal dibarak itu melainkan di suatu ruang bagian ujung gudang kantor Dinas Kesahatan. Gudang kantor Dinas Kesehatan, bayangkan lah barang apa saja yang kira-kira disimpan di sana, aroma antiseptik dan sejenisnya kadang menyeruak sampai masuk ke rumah. Semasa itu, saya tidak memiliki kawan di sekitar rumah. Yang ada hanya sebuah radio yang hanya menyiarkan siaran RRI saja. Suatu kali saya duduk di bangku kayu di depan rumah di bawah pohon rambutan yang rindang namun tak pernah kunjung berbuah. Semangkuk es gong di pangkuan saya, dan radio memperdengarkan suara lelaki menceritakan entah apa dengan gaya Bahasa yang serius. Sambal menyuap sesendok es gong, kemudian saya memalingkan wajah ke radio itu dan bertanya, “eh, gak capek kah ngomong terus, nih aku kasih es”. Lalu saya menyupkan sesendok es ke radio di samping saya, ke lubang-lubang logam kecil yang merupakan sumber suara lelaki itu keluar. Lamat-lamat suara lelaki itu menghilang. Dan saya tak pernah mendengar suara apapun lagi dari radio itu.

Saya juga pernah berlaku seperti Na Willa, saya bisa menangis sekencang-kencangnya, berteriak-teriak sekeras yang saya bisa lakukan. Saya pernah diikat oleh Bapak di pohon mangga di depan rumah, pohon mangga itu banya semut rangrangnya. Katanya saya nakal, minta pisang goreng sudah dibelikan malah gak dimakan. Pernah lagi saya diikat dengan posisi memeluk guling entah kesalahan apa yang saya lakukan, yang saya ingat saya nangis teriak-teriak sambal guling-guling di lantai.

Kebengalan yang jika diingat-ingat lagi jadi menyenangkan kan? Seperti Aku dan juga Na Willa tentu saja. Bacaan sederhana yang menyenangkan.

Advertisements

Adegan Epic: Kimi no Na wa (2016) – Makoto Shinkai

Kimi no Na wa Seorang kawan tiba-tiba saja menceritakan tentang film anime ini. Kawan saya seorang tukang gambar, jadi menurut saya mungkin dia berlebihan menceritakan film ini. Gambarnya bagus lah, ya tentu saja dia menganggap gambarnya bagus secara dia tukang gambar. Ceritanya bagus lah.

ceritanya bagus, kalau anime biasanyakan ceweknya yang usaha banget. Nah ini cowoknya juga usaha

Oh, kisah cinta ya? Ish drama sekali

Tapi ini bagus kok, coba nonton dulu. Lihat di YouTube coba

Kemudian saya membuka tautan yang dibagikan kawan saya itu.

Ini film semacam magic-magic gitu kah?

Ya ada dikit, tapi enggak lah. Nonton dulu.

Dan dengan segala kesuksesan film ini yang telah diceritakan oleh kawan saya pun tak membuat saya benar-benar ingin menontonnya. Sampai akhirnya instastory Barasuara yang sedang dalam penerbangan ke suatu kota entah apa saya lupa muncul lah film ini, Gerald menanyakan tentang film yang mereka nonton sepanjang penerbangan pada TJ Kusuma dan Iga Masardi. “Gimana Kimi no Na wa?”

Saya akhirmya menghubungi kawan saya lagi meminta bekas film Kimi no Na wa. Menontonnya sampai selesai, kemudian menontonnya lagi setelah selesai.

Film ini berkisah tentang Mitsuha yang berada di desa Itomori tiga tahun yang lalu bertukar tempat dengan Taki yang berada di Tokyo tiga tahun kemudian. Mereka bertukar tempat dan waktu melalui mimpi. Sampai akhirnya mereka tak bertukar tempat lagi dan Taki memutuskan untuk pergi mencari Mitsuha. Dalam pencariannya, Taki mendapati bahwa Itomori sudah tidak ada lagi, musnah tiga tahun lalu karena jatuhnya komet di desa tersebut. Kemudian perlahan Taki juga melupakan Mitsuha, bahkan tak mengingat lagi walau sekedar nama. Tapi film ini berakhir bahagia kok, jadi mereka bertemu lagi walau di waktu dan tempat yang berbeda kemudian.

*

“Gimana Kimi no Na wa, bagus kan?”

“Ya, lumayan lah.”

“Kalau anime biasanya kan ceweknya tu yang usaha banget, nah ini cowoknya juga usaha lah.”

“Iya, kata temanku yang kuliah di Jepang dulu juga gitu, Cowok Jepang tu dingin, nggak romantis. Kalah sama orang Indonesia, jago banget nggombalnya.”

“Kamu suka bagian yang mana? Aku punya adegan paling epic di filmnya itu.”

“Apa?”

“Itu waktu dia jatuh, terus dia llihat tangannya, ternyata tulisannya, ‘aku mencintaimu’. Emang kamu apa?”

“Waktu Taki bangun pagi di badannya Mitsuha, itu waktu dia pegang-pegang dadanya sendiri.”

“Ahahaha, iya itu epic banget apalagi yang terakhir, yang sambil nangis-nangis itu. Sampai demam ketakutan adiknya ngelihat dia.”

“Eis, jadi adegan favorite mu yang mana, waktu dia lihat tangannya itu apa pas dia pegang-pegang dadanya, nggak kreatif deh kamu.”

“Ahaha. Ya itu juga lah pokoknya.”

***

Mamah dan Ilmu Kebatinnya: Endorphin-R.E. Hartanto

_20170131_1255071Kali pertama melihat kemunculannya di media sosial sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Tapi sepertinya alam bawah sadar saya teperdaya oleh kemunculannya yang terus-menerus dan sisipan sketsa gambar yang menarik, penuh warna yang mereka bocorkan. Tapi yang paling mempesona saya adalah postingan Buku Mojok sekitar enam bulan lalu. Sebuah doa pagi, “Tuhan, kalau si dia emang jodohku maka gagalkan pernikahannya pekan depan.” Dengan bagian lembaran buku yang menampilkan sketsa seorang sedang bertelut berdoa, sekuntum bunga kamboja putih, dan seikat dupa yang hampir habis terbakar. Dan akhirnya saya berhasil memiliki buku itu, membacanya tuntas.

Sebenarnya tak banyak yang saya ingat dari buku ini. Ya begitulah jika saya membaca buku, lebih banyak lupanya daripada yang diingat. Itu sebabnya semasa sekolah, kuliah, saya tak terlalu akrab dengan buku. Ada sih yang akrab tetapi lebih akrab di tempat tidur, kadang digunakan sebagai alat hipnotis agar lelap dan segera tidur tapi lebih seringnya sebagai bantal darurat. Keesokan paginya saya akan mengerjakan ujian lebih cepat dibandingkan teman-teman lainnya. Ya tentunya karena saya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Daripada saya lapar kerena belum sarapan dan hawa dingin karena AC kelas membuat tambah lapar, lebih baik segera keluar kelas dan menuju kantin memesan lontong sayur kegemaran warga kampus.

Sebagian yang saya ingat adalah kisah seorang raja yang begitu sayang pada anjingya dan kemudian tingkahnya berubah seperti anjing, menggonggong, cara makan dan minumnya juga seperti anjing, sejak ditinggal mati oleh anjingnya. Di kisah lain diceritakan juga sang raja telah mangkat dan menggonggong di alam arwah mencari anjingnya.

Ada pula kisag seperkawanan yang terdampar di pulau antah-berantah, memperebutkan nasi, mati karena nasi, menyelamatkan diri dan entah apa saya sudah tak ingat lagi.

Ada pula tokoh Sulaiman yang berulang-ulang muncul, tapi yang saya ingat Sulaiman melawan tuan drakula. Kisahnya terlalu absurd buat saya. Tak hanya kisah tentang Sulaiman yang absurd, tapi juga kisah-kisah lainnya.

Suatu kali masa orientasi kampus, saya kebagian satu kelas kemudian saya memberikan buku Endorphin ini kepada salah seorang mahasiswa baru, kerena kreatifnya dia membuat kisah.

Natal lalu, mamah datang. Tapi tidak bisa maksimal menemani. Kampus saya mengadakan pelatihan, pelatihan saat semua orang masih merayakakn Natal, dan cuti bersama nasioanal, saya masih di kampus mengikuti pelatihan dari pagi jam 8 sampai jam 11 malam, luar biasa. Mamah tak ada kegiatan, tak ada hiburan, tak ada TV di rumah. Hanya buku-buku bertumpuk tak jelas.

Mamah bukan tipe pembaca, sebetulnya tak ada satupun di keluarga kami yang senang membaca. Tapi karena tidak ada kerjaan menunggu di rumah maka membacalah mamah. Buku yang dipilihnya adalah Endorphin. Saya tak menyadari kalau mamah membaca, saya baru sadar setelah hari ketiga tahu setelah pelatihan berakhir mamah bercerita tentang betapa hebatnya Sulaiman lulusan S2 Ilmu Kebatinan, bisa menghilang pula katanya.

Saya tertawa mendengar cerita mamah, bukan karena cerita yang dia ceritakan tentang Sulaiman adalah kisah yang lucu tapi karena ilmu kebatinan yang dikisahkannya. Kami di rumah sering menggoda mamah punya ilmu kebatinan karena dia hanya diam saja, membatin tapi berharap kami semua tahu apa yang ada dalam batinnya, dalam pikirannya. Mamah memiliki ilmu kebatinan tapi kami semua di rumah tidak memilikinya. Maka itu saya kemudian tertawa keras, tak tahan menahan rasa menggelitik.

Mungkin memang mamah memiliki ilmu kebatinan, buktinya mamah bisa memilih dengan tepat bacaan yang tepat kemudian bertemu dengan Sulaiman. Jangan-jangan Sulaiman juga yang sebenarnya mengirimkan ilmu kebatinannya sehingga akhirnya saya bertekat kuat memilikinya kemudian membacanya?

Buat yang telah membaca Endorphin, mungkin kalian berbakat dalam ilmu kebatinan dan bisa melanjutkan program S2 Ilmu kebatinan. Buat yang belum membaca Endorphin mungkin kalian harus latihan kebatinan dulu sampai akhirnya kalian bisa merasakan panggilan dari Sulaiman.

Cinta yang Tak Mati-Mati: Rahvayana Aku Lala Padamu-Sujiwo Tejo

IMG_20160624_220259[1]IMG_20160624_220747[1]

Novel Sujiwo Tejo ini adalah sebuah saduran lakon kisah cinta yang tragis yang melegenda dari anak benua sampai ke nusantara, Ramayana. Tapi bukanlah Rama seperti kisah dalam kisah Anak Bajang Menggiring Angin milik Romo Sindhunata yang menjadi pemeran utama lakon ini, bukan juga Sinta seperti dalam kisah Sinta Obong dari Ardian Kresna, bahkan bukan pula Hanoman. Yang menjadi lakon utama adalah Rahwana, Rahwanan yang tidak mati-mati, juga seperti cintanya yang tak mati-mati.

Rahwana dikisahkan seorang pria yang memiliki panggilan ‘Rahwana’. Nama aslinya sendiri tidak dikisahkan seperti saudara-saudaranya yang lain, Kumbakarna alias Lawwamah, Wibisana alias Mutmainah, Sarpakenaka alias Supiah, dan Amarah. Dan Amarah selalu menganggap sang lakon utama adalah Rahwana. Menurut saya sih, si lakon utama ini bernama Tejo seperti sang penulis sendiri, heuheuheu….

Lakon ini adalah lakon monolog, hanya sudut pandang Rahwana saja yang digunakan untuk berkisah. Kisah Rahwana yang cintanya tak mati-mati kepada Sinta dalam rupa apapun. Dalam rupa seorang wanita modern yang berkeliling dunia memunguti sisa-sisa jaya rayanya budaya sastra di negeri-negeri asal peradaban bermula atau dalam rupa bayi mungil nan menggemaskan. Seperti sang Rahwana yang selalu mencintai Dewi Widowati, atau Dewi Citrawati, atau Dewi Sukasalya, atau anaknya sendiri Sinta. Rahwana selalu mencintainya dalam rupa apapun. Dan Rahwana punya cinta yang tulus yang bahkan dengan kekuatannya, kesaktiannya, dia bisa saja mendapatkan, memaksa Sinta dengan mudah saat menyekap Sinta di Alengka. Tapi Rahwana tidak melakukannya, dia terus menunggu sampai Sinta membalas cintanya. Bahkan Rama tak punya cinta setulus yang Rahwana punya kepada Sinta. Rama meragukannya dengan mengutus Hanoman untuk bukan untuk menyelamatkan Sinta, tapi menanyakan masih sucikah Sinta? Atau saat Rama meminta Sinta terjun ke api untuk membuktikan kesucian cintanya? Lelaki tampan, memiliki kekasih rupawan, tapi insecure?

Rahwana kalah, tapi tidak pernah mati. Tubuhnya hanya terjepit di antara gunung Sondara-Sondari. Rahwana memiliki ajian Pancasona yang membuatnya tidak bisa mati-mati. Cintanya pada Sinta pun tak mati-mati. Lewat gelembung-gelembung udara Rahwana tidak menyebarkan angkara murka, tapi cintanya yang tulus dan suci yang tidak mati-mati kepada Sinta.

Seperti kata Butet Kartaredjasa, novel ini unik dan autentik. Tidak terduga, tapi mengandung kebenaran. Mengejutkan sekaligus menyegarkan. Atau seperti kata mbak Najwa Shihab, nakal dan jenaka. Baca saja supaya Anda tahu seunik dan autentik apa novel ini, atau senakal dan jenaka apakah novel ini.

Selamat membaca semoga cintamu juga seperti Rahwana yang tidak pernah mati-mati.

Cinta Rahwana tak mati-mati

Walaupun raganya dibikin mati

Cintanya tetap tulus dan suci

Menunggu sampai mati

Kisah-Kisah Yang Muram: Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi-Azhari

Akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan membaca kumpulan cerpen milik Azhari. Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 134 halaman ini.

Kumpulan cerita pendek yang diterbitkan ulang oleh Buku Mojok ini, menurut saya adalah kisah-kisah yang muram. Kisah-kisah sedih mereka yang merindu, ditinggalkan, merindu, berharap, yang tak pernah jelas sampai kapan.

Selain kisah yang muram, kumpulan cerita pendek ini merupakan kiah yang sulit dimengerti. Untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek saja saya memerlukan banyak hari. Kadang hanya sempat membaca satu penggalan alenia saja. Kadang saya membaca ulang karena sungguh saya gagal memahami maksud cerita atau saya melupakan tokoh yang ada dalam cerita.

Pengantar yang diberikan oleh Prof. James T. Siegel kemudian membuat saya menyimpulkan pada akhirnya, pantas saja cerita-cerita Azhari adalah cerita yang muram. Cerita-cerita pendek ini merupakan kumpulan kisah-kisah dari era “konflik” di Aceh. Kata beliau, “lewat cerita-cerita fiksi Azhari ini, kita merasakan satu keadaan yang jarang diungkapkan dan tak pelak lagi berasal dari pengalaman terdekat selama periode mengerikan di ujung barat kepulauan Indonesia”. Jadi wajar saja kan jika saya katakana kalau kisah-kisah ini kisah yang muram?

Anda ingin tahu seberapa suram kisah-kisah ini. Sungguh saya tak bisa menggambarkannya, hanya ada hati yang kadang sedih, takut, dan sedikit gelisah saat membacanya. Berharap bahwa cerita pendek yang saya baca benar-benar sebuah fiksi belaka. Tak bisa saya bayangkan alangkah mengerikannya jika cerita itu adalah kisah nyata.

Akhir pekan berakhir kelabu

Karena awan tak tahan membendung rindu

Hujan yang datang membuat hati kelu

Menambah muram hati nan sendu

Menguras Emosi: #narasi Antologi Prosa Jurnalisme-Dwifatma dkk

Saya pernah membaca beberapa tulisan di pindai.org, kemudian membaca beberapa twit kalau mereka mengeluarkan buku antologi artikel. Saya langsung membayangkan, paling tidak tulisan-tulisan yang mereka bukukan ini setara dengan yang mereka publikasikan di pindai.org lah ya. Mungkin mengikuti jejak mojok.co yang membukukan beberapa tulisan-tulisan yang pernah mereka publikasikan dalam laman webnya dalam Surat Terbuka kepada Pemilih Jokowi Sedunia.

Tanpa pikir panjang saya memesan buku tersebut melalui Pojok Cerpen. Salah satu yang membuat saya tertarik dengan ini selain pernah membaca pindai.org, saya pernah membaca tulisan dari beberapa penulis dalam buku ini. Buku ini pasti seru. Mungkin juga sekalian bisa membuat saya tampak cerdas beberapa persen.

Buku yang saya beli bulan Februari lalu, baru pertengahan Maret saya mulai membacanya dan itupun sekedar untuk bekal perjalanan acara kampus ke Ketapang, dan awal bulan April saya selesaikan dengan perasaan yang tercabik-cabik (mungkin pengaruh ketidak-seimbangan hormon pra-menstruasi).

Berbagai perasaan tak terkendali saat membaca buku ini. Kadang terlalu sumringah, kadang terlalu sedih sampai menitikan air mata, kadang terlalu marah, bahkan ada ketakutan yang menyusup diam-diam dalam diri. Tapi di lain tulisan rasanya seperti membaca parodi saja, membuat tawa taka da habisnya.

Surat dari Geudong: Panglima, Cuak, dan RBT yang ditulis Chik Rini membuat saya merasakan ketegangan suasana konflik di Aceh. Tak bisa membayangkan bagaimana anak SD kelas 2 dan seorang balita 4 tahun melihat bapaknya mati ditembak di depan batang hidungnya. Saya jadi teringat cerpen Kupu-kupu Bermata Ibu-Azhari, sepertinya Azhari dan Rini mengisahkan kekhilangan yang sama dengan fiksi dan nonfiksi. Tetap saja bagi saya keduanya adalah sadis.

Tulisan Puthut EA (Hikayat Negeri Tembakau) dan Nody Arizona (Mengejar Kere Minggat) tentang tembakau membuat saya sedikit belajar tentang kota tempat saya menetap sekarang, penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Saya sudah pernah membaca tulisan Puhut EA ini dalam bukunya Mengantar dari Luar (mengingatkan saya, bahwa saya belum lunas membaca buku tebal itu, duh).

Jember, sebelumnya tak ada kisah yang melekat dalam ingatan saya selain Dewi Persik dan pesta pernikahan akbar anggota DPR RI komisi X, Anang Hermansyah di kota kelahirannya ini. Apalagi terdengar isu bahwa beliau hendak mencalonkan diri sebagai bupati Jember. Setelah penyataannya Yang terganggu tinggal pindah channel lain saja, saya sungguh-sungguh berharap beliau benar-benar TIDAK mencalonkan diri jadi bupati.

Dan satu lagi yang saya pelajari tentang Jember, Cina. Atau lebih tepatnya Hoakiao dari Jember (Andreas Harsono).  Saat selesai membaca tulisan ini, saya mengumpat. Sialan, saya tertipu oleh Harsono, tertipu mentah-mentah. Saya tak pernah mengira kalau dia sedang menceritakan dirinya sendiri.

Saat kita dalam kelompok minoritas, biasanya kita menjadi orang yang lebih tegar, lebih sabar, bahkan lebih bijaksana. Pengawalan polisi pada mahasiswa asal NTT di Malang menunjukkan bahwa aparat pemerintah/negara yang seharusnya melindungi setiap warga negaranya malah tak bisa memberikan perlindungan. Seperti juga yang dialami warga Syiah di Sampang (‘Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam’-Rusdi Mathari), aparat kalah banyak. Atau saat mereka yang bersenjata lengkap begitu takutnya dengan warga masyarakat yang sebagian besar hanya petani karena tanah garapan warga klaim sebagai tanah mereka (Bara di Urutsewu-Prima Sulistya Wardhani). Sungguh saya tertawa melihat begitu menakutkankah warga sipil itu sampai perlu satuan setingkat peleton Batalyon Infanteri 403/Wirasada Pratista untuk menghalau warga? Kalau boleh saya mengutip bahasa anak masa kini, hedew….lebay deh!

Perempuan selalu saja jadi pihak yang paling dimanfaatkan saat ada konflik atau perang berlangsung. Dua Anak Serdadu (Imam Shofwan) dan Luka dari Saudara Tua (Budi Setiyono). Dada saya sesak membayangkan yang dirasakan ‘sang perempuan’. Hal yang sama saya rasakan saat membaca tulisan Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Sampai sekarang saya belum berhasil menamatkan buku itu.

Dan air mata saya sungguh tak terkendali, keluar begitu saja dari pelupuk mata saat membaca kutipan “Selamat jalan, Wan….” yang tetiba keluar dari mulut Sumarsih (Perempuan Berpayung Hitam-Andina Dwifatma).

Masih ada catatan-catatan seru tentang pertandingan sepak bola, singkong, musik indie, suku Indian, bahkan tentang skizofrenia lainnya. Jadi, selamat membaca.

Jadi Pendukung Jokowi yang Sesungguhnya: Dari Twitwar Ke Twitwar-Arman Dhani

Suatu kali sebelum pemilihan presiden 2014 lalu saya membaca status entah siapa di salah satu media sosial. “Kalau kamu tidak ikut memilih, kamu tidak berhak mengomentari atau protes dengan baik buruk apapun yang dilakukan pemerintah nanti. Kalau kamu memilih dan pilihanmu kalah di pemilihan nanti adalah hakmu untuk mengomentari atau protes dengan baik buruknya kinerja pemerintah. Tapi kalau kamu memilih dan pilihanmu menang maka kamu wajib mengomentari, protes, atau mengkritisi jalannya pemerintahan nanti.” Ya, memang hak kita sebagai pemilih dan pendukung Jokowi untuk selalu mengingatkan beliau jika beliau salah jalan atau melenceng dari janji-janjinya atau melukai hati negara tercinta ini.

Awal tahun ini saya menyelesaikan membaca buku Arman Dhani, Dari Twitwar Ke Twitwar dalam waktu kurang dari seminggu. Buku mas Dhani (sok akrab banget deh saya ini manggil mas) ini berisi kumpulan artikel-artikel beliau yang pernah dipublikasikan ke beberapa media daring. Tulisan-tulisan satir mungkin memang merupakan khas beliau. Membaca buku ini membuat saya berpikir ulang saat ingin mendukung atau tidak pada suatu keadaan. Mungkin kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda, atau kita perlu klarifikasi terlebih dahulu dari mereka yang kita jadikan tertuduh.

Tulisan-tulisan mas Dhani juga kadang membuat saya iri, bisakah saya menulis seperti beliau ini. Kadang saat menulis sesuatu saya sering mengabaikan fakta dan memunculkan prasangka saya sendiri pada tulisan saya. Saya menggiring opini pembaca agar sependapat dengan saya. Tapi mas Dhani malah mengulas satu persatu kesalahan presiden terpilih Jokowi meskipun semua orang tahu kalau mas Dhani adalah penndukung Jokowi garis keras. Betapa berat buat saya menjelek-jelekan apa yang saya bela, apa yang saya dukung, walaupun saya sering kali tahu bahwa apa yang saya bela, apa yang saya dukung juga kada mengecewakan.

Tulisan-tulisan mas Dhani mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda pada setiap keadaan, kejadian. Sering kali sudut pandang inilah yang kita abaikan sebelum kita memutuskan. Mas Dhani juga mengajak kita untuk jujur, jujur berpendapat namun berdasarkan fakta. Bukannya hanya menjadi seorang fanatik mati.

Mungkin saya harus banyak belajar dari mas Dhani. Menulis dengan netral tanpa baper prasangka tapi mengutamakan fakta. Mendukung dengan jujur, menyatakan salah saat bersalah dan memberikan pujian saat pencapaian didapat.

Sudut pandang berbeda membuat kita belajar bahwa kebenaran itu bukan hanya hitam dan putih dan juga tidak hanya kita saja yang bisa menentukan hitam dan putih itu. Kebenaran ini adalah kesepakatan, entah hitam entah putih yang penting semua senang.