Mamah dan Ilmu Kebatinnya: Endorphin-R.E. Hartanto

_20170131_1255071Kali pertama melihat kemunculannya di media sosial sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membacanya. Tapi sepertinya alam bawah sadar saya teperdaya oleh kemunculannya yang terus-menerus dan sisipan sketsa gambar yang menarik, penuh warna yang mereka bocorkan. Tapi yang paling mempesona saya adalah postingan Buku Mojok sekitar enam bulan lalu. Sebuah doa pagi, “Tuhan, kalau si dia emang jodohku maka gagalkan pernikahannya pekan depan.” Dengan bagian lembaran buku yang menampilkan sketsa seorang sedang bertelut berdoa, sekuntum bunga kamboja putih, dan seikat dupa yang hampir habis terbakar. Dan akhirnya saya berhasil memiliki buku itu, membacanya tuntas.

Sebenarnya tak banyak yang saya ingat dari buku ini. Ya begitulah jika saya membaca buku, lebih banyak lupanya daripada yang diingat. Itu sebabnya semasa sekolah, kuliah, saya tak terlalu akrab dengan buku. Ada sih yang akrab tetapi lebih akrab di tempat tidur, kadang digunakan sebagai alat hipnotis agar lelap dan segera tidur tapi lebih seringnya sebagai bantal darurat. Keesokan paginya saya akan mengerjakan ujian lebih cepat dibandingkan teman-teman lainnya. Ya tentunya karena saya tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Daripada saya lapar kerena belum sarapan dan hawa dingin karena AC kelas membuat tambah lapar, lebih baik segera keluar kelas dan menuju kantin memesan lontong sayur kegemaran warga kampus.

Sebagian yang saya ingat adalah kisah seorang raja yang begitu sayang pada anjingya dan kemudian tingkahnya berubah seperti anjing, menggonggong, cara makan dan minumnya juga seperti anjing, sejak ditinggal mati oleh anjingnya. Di kisah lain diceritakan juga sang raja telah mangkat dan menggonggong di alam arwah mencari anjingnya.

Ada pula kisag seperkawanan yang terdampar di pulau antah-berantah, memperebutkan nasi, mati karena nasi, menyelamatkan diri dan entah apa saya sudah tak ingat lagi.

Ada pula tokoh Sulaiman yang berulang-ulang muncul, tapi yang saya ingat Sulaiman melawan tuan drakula. Kisahnya terlalu absurd buat saya. Tak hanya kisah tentang Sulaiman yang absurd, tapi juga kisah-kisah lainnya.

Suatu kali masa orientasi kampus, saya kebagian satu kelas kemudian saya memberikan buku Endorphin ini kepada salah seorang mahasiswa baru, kerena kreatifnya dia membuat kisah.

Natal lalu, mamah datang. Tapi tidak bisa maksimal menemani. Kampus saya mengadakan pelatihan, pelatihan saat semua orang masih merayakakn Natal, dan cuti bersama nasioanal, saya masih di kampus mengikuti pelatihan dari pagi jam 8 sampai jam 11 malam, luar biasa. Mamah tak ada kegiatan, tak ada hiburan, tak ada TV di rumah. Hanya buku-buku bertumpuk tak jelas.

Mamah bukan tipe pembaca, sebetulnya tak ada satupun di keluarga kami yang senang membaca. Tapi karena tidak ada kerjaan menunggu di rumah maka membacalah mamah. Buku yang dipilihnya adalah Endorphin. Saya tak menyadari kalau mamah membaca, saya baru sadar setelah hari ketiga tahu setelah pelatihan berakhir mamah bercerita tentang betapa hebatnya Sulaiman lulusan S2 Ilmu Kebatinan, bisa menghilang pula katanya.

Saya tertawa mendengar cerita mamah, bukan karena cerita yang dia ceritakan tentang Sulaiman adalah kisah yang lucu tapi karena ilmu kebatinan yang dikisahkannya. Kami di rumah sering menggoda mamah punya ilmu kebatinan karena dia hanya diam saja, membatin tapi berharap kami semua tahu apa yang ada dalam batinnya, dalam pikirannya. Mamah memiliki ilmu kebatinan tapi kami semua di rumah tidak memilikinya. Maka itu saya kemudian tertawa keras, tak tahan menahan rasa menggelitik.

Mungkin memang mamah memiliki ilmu kebatinan, buktinya mamah bisa memilih dengan tepat bacaan yang tepat kemudian bertemu dengan Sulaiman. Jangan-jangan Sulaiman juga yang sebenarnya mengirimkan ilmu kebatinannya sehingga akhirnya saya bertekat kuat memilikinya kemudian membacanya?

Buat yang telah membaca Endorphin, mungkin kalian berbakat dalam ilmu kebatinan dan bisa melanjutkan program S2 Ilmu kebatinan. Buat yang belum membaca Endorphin mungkin kalian harus latihan kebatinan dulu sampai akhirnya kalian bisa merasakan panggilan dari Sulaiman.

Cinta yang Tak Mati-Mati: Rahvayana Aku Lala Padamu-Sujiwo Tejo

IMG_20160624_220259[1]IMG_20160624_220747[1]

Novel Sujiwo Tejo ini adalah sebuah saduran lakon kisah cinta yang tragis yang melegenda dari anak benua sampai ke nusantara, Ramayana. Tapi bukanlah Rama seperti kisah dalam kisah Anak Bajang Menggiring Angin milik Romo Sindhunata yang menjadi pemeran utama lakon ini, bukan juga Sinta seperti dalam kisah Sinta Obong dari Ardian Kresna, bahkan bukan pula Hanoman. Yang menjadi lakon utama adalah Rahwana, Rahwanan yang tidak mati-mati, juga seperti cintanya yang tak mati-mati.

Rahwana dikisahkan seorang pria yang memiliki panggilan ‘Rahwana’. Nama aslinya sendiri tidak dikisahkan seperti saudara-saudaranya yang lain, Kumbakarna alias Lawwamah, Wibisana alias Mutmainah, Sarpakenaka alias Supiah, dan Amarah. Dan Amarah selalu menganggap sang lakon utama adalah Rahwana. Menurut saya sih, si lakon utama ini bernama Tejo seperti sang penulis sendiri, heuheuheu….

Lakon ini adalah lakon monolog, hanya sudut pandang Rahwana saja yang digunakan untuk berkisah. Kisah Rahwana yang cintanya tak mati-mati kepada Sinta dalam rupa apapun. Dalam rupa seorang wanita modern yang berkeliling dunia memunguti sisa-sisa jaya rayanya budaya sastra di negeri-negeri asal peradaban bermula atau dalam rupa bayi mungil nan menggemaskan. Seperti sang Rahwana yang selalu mencintai Dewi Widowati, atau Dewi Citrawati, atau Dewi Sukasalya, atau anaknya sendiri Sinta. Rahwana selalu mencintainya dalam rupa apapun. Dan Rahwana punya cinta yang tulus yang bahkan dengan kekuatannya, kesaktiannya, dia bisa saja mendapatkan, memaksa Sinta dengan mudah saat menyekap Sinta di Alengka. Tapi Rahwana tidak melakukannya, dia terus menunggu sampai Sinta membalas cintanya. Bahkan Rama tak punya cinta setulus yang Rahwana punya kepada Sinta. Rama meragukannya dengan mengutus Hanoman untuk bukan untuk menyelamatkan Sinta, tapi menanyakan masih sucikah Sinta? Atau saat Rama meminta Sinta terjun ke api untuk membuktikan kesucian cintanya? Lelaki tampan, memiliki kekasih rupawan, tapi insecure?

Rahwana kalah, tapi tidak pernah mati. Tubuhnya hanya terjepit di antara gunung Sondara-Sondari. Rahwana memiliki ajian Pancasona yang membuatnya tidak bisa mati-mati. Cintanya pada Sinta pun tak mati-mati. Lewat gelembung-gelembung udara Rahwana tidak menyebarkan angkara murka, tapi cintanya yang tulus dan suci yang tidak mati-mati kepada Sinta.

Seperti kata Butet Kartaredjasa, novel ini unik dan autentik. Tidak terduga, tapi mengandung kebenaran. Mengejutkan sekaligus menyegarkan. Atau seperti kata mbak Najwa Shihab, nakal dan jenaka. Baca saja supaya Anda tahu seunik dan autentik apa novel ini, atau senakal dan jenaka apakah novel ini.

Selamat membaca semoga cintamu juga seperti Rahwana yang tidak pernah mati-mati.

Cinta Rahwana tak mati-mati

Walaupun raganya dibikin mati

Cintanya tetap tulus dan suci

Menunggu sampai mati

Kisah-Kisah Yang Muram: Perempuan Pala & Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi-Azhari

Akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan membaca kumpulan cerpen milik Azhari. Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku yang hanya setebal 134 halaman ini.

Kumpulan cerita pendek yang diterbitkan ulang oleh Buku Mojok ini, menurut saya adalah kisah-kisah yang muram. Kisah-kisah sedih mereka yang merindu, ditinggalkan, merindu, berharap, yang tak pernah jelas sampai kapan.

Selain kisah yang muram, kumpulan cerita pendek ini merupakan kiah yang sulit dimengerti. Untuk menyelesaikan sebuah cerita pendek saja saya memerlukan banyak hari. Kadang hanya sempat membaca satu penggalan alenia saja. Kadang saya membaca ulang karena sungguh saya gagal memahami maksud cerita atau saya melupakan tokoh yang ada dalam cerita.

Pengantar yang diberikan oleh Prof. James T. Siegel kemudian membuat saya menyimpulkan pada akhirnya, pantas saja cerita-cerita Azhari adalah cerita yang muram. Cerita-cerita pendek ini merupakan kumpulan kisah-kisah dari era “konflik” di Aceh. Kata beliau, “lewat cerita-cerita fiksi Azhari ini, kita merasakan satu keadaan yang jarang diungkapkan dan tak pelak lagi berasal dari pengalaman terdekat selama periode mengerikan di ujung barat kepulauan Indonesia”. Jadi wajar saja kan jika saya katakana kalau kisah-kisah ini kisah yang muram?

Anda ingin tahu seberapa suram kisah-kisah ini. Sungguh saya tak bisa menggambarkannya, hanya ada hati yang kadang sedih, takut, dan sedikit gelisah saat membacanya. Berharap bahwa cerita pendek yang saya baca benar-benar sebuah fiksi belaka. Tak bisa saya bayangkan alangkah mengerikannya jika cerita itu adalah kisah nyata.

Akhir pekan berakhir kelabu

Karena awan tak tahan membendung rindu

Hujan yang datang membuat hati kelu

Menambah muram hati nan sendu

Menguras Emosi: #narasi Antologi Prosa Jurnalisme-Dwifatma dkk

Saya pernah membaca beberapa tulisan di pindai.org, kemudian membaca beberapa twit kalau mereka mengeluarkan buku antologi artikel. Saya langsung membayangkan, paling tidak tulisan-tulisan yang mereka bukukan ini setara dengan yang mereka publikasikan di pindai.org lah ya. Mungkin mengikuti jejak mojok.co yang membukukan beberapa tulisan-tulisan yang pernah mereka publikasikan dalam laman webnya dalam Surat Terbuka kepada Pemilih Jokowi Sedunia.

Tanpa pikir panjang saya memesan buku tersebut melalui Pojok Cerpen. Salah satu yang membuat saya tertarik dengan ini selain pernah membaca pindai.org, saya pernah membaca tulisan dari beberapa penulis dalam buku ini. Buku ini pasti seru. Mungkin juga sekalian bisa membuat saya tampak cerdas beberapa persen.

Buku yang saya beli bulan Februari lalu, baru pertengahan Maret saya mulai membacanya dan itupun sekedar untuk bekal perjalanan acara kampus ke Ketapang, dan awal bulan April saya selesaikan dengan perasaan yang tercabik-cabik (mungkin pengaruh ketidak-seimbangan hormon pra-menstruasi).

Berbagai perasaan tak terkendali saat membaca buku ini. Kadang terlalu sumringah, kadang terlalu sedih sampai menitikan air mata, kadang terlalu marah, bahkan ada ketakutan yang menyusup diam-diam dalam diri. Tapi di lain tulisan rasanya seperti membaca parodi saja, membuat tawa taka da habisnya.

Surat dari Geudong: Panglima, Cuak, dan RBT yang ditulis Chik Rini membuat saya merasakan ketegangan suasana konflik di Aceh. Tak bisa membayangkan bagaimana anak SD kelas 2 dan seorang balita 4 tahun melihat bapaknya mati ditembak di depan batang hidungnya. Saya jadi teringat cerpen Kupu-kupu Bermata Ibu-Azhari, sepertinya Azhari dan Rini mengisahkan kekhilangan yang sama dengan fiksi dan nonfiksi. Tetap saja bagi saya keduanya adalah sadis.

Tulisan Puthut EA (Hikayat Negeri Tembakau) dan Nody Arizona (Mengejar Kere Minggat) tentang tembakau membuat saya sedikit belajar tentang kota tempat saya menetap sekarang, penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Saya sudah pernah membaca tulisan Puhut EA ini dalam bukunya Mengantar dari Luar (mengingatkan saya, bahwa saya belum lunas membaca buku tebal itu, duh).

Jember, sebelumnya tak ada kisah yang melekat dalam ingatan saya selain Dewi Persik dan pesta pernikahan akbar anggota DPR RI komisi X, Anang Hermansyah di kota kelahirannya ini. Apalagi terdengar isu bahwa beliau hendak mencalonkan diri sebagai bupati Jember. Setelah penyataannya Yang terganggu tinggal pindah channel lain saja, saya sungguh-sungguh berharap beliau benar-benar TIDAK mencalonkan diri jadi bupati.

Dan satu lagi yang saya pelajari tentang Jember, Cina. Atau lebih tepatnya Hoakiao dari Jember (Andreas Harsono).  Saat selesai membaca tulisan ini, saya mengumpat. Sialan, saya tertipu oleh Harsono, tertipu mentah-mentah. Saya tak pernah mengira kalau dia sedang menceritakan dirinya sendiri.

Saat kita dalam kelompok minoritas, biasanya kita menjadi orang yang lebih tegar, lebih sabar, bahkan lebih bijaksana. Pengawalan polisi pada mahasiswa asal NTT di Malang menunjukkan bahwa aparat pemerintah/negara yang seharusnya melindungi setiap warga negaranya malah tak bisa memberikan perlindungan. Seperti juga yang dialami warga Syiah di Sampang (‘Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam’-Rusdi Mathari), aparat kalah banyak. Atau saat mereka yang bersenjata lengkap begitu takutnya dengan warga masyarakat yang sebagian besar hanya petani karena tanah garapan warga klaim sebagai tanah mereka (Bara di Urutsewu-Prima Sulistya Wardhani). Sungguh saya tertawa melihat begitu menakutkankah warga sipil itu sampai perlu satuan setingkat peleton Batalyon Infanteri 403/Wirasada Pratista untuk menghalau warga? Kalau boleh saya mengutip bahasa anak masa kini, hedew….lebay deh!

Perempuan selalu saja jadi pihak yang paling dimanfaatkan saat ada konflik atau perang berlangsung. Dua Anak Serdadu (Imam Shofwan) dan Luka dari Saudara Tua (Budi Setiyono). Dada saya sesak membayangkan yang dirasakan ‘sang perempuan’. Hal yang sama saya rasakan saat membaca tulisan Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer. Sampai sekarang saya belum berhasil menamatkan buku itu.

Dan air mata saya sungguh tak terkendali, keluar begitu saja dari pelupuk mata saat membaca kutipan “Selamat jalan, Wan….” yang tetiba keluar dari mulut Sumarsih (Perempuan Berpayung Hitam-Andina Dwifatma).

Masih ada catatan-catatan seru tentang pertandingan sepak bola, singkong, musik indie, suku Indian, bahkan tentang skizofrenia lainnya. Jadi, selamat membaca.

Jadi Pendukung Jokowi yang Sesungguhnya: Dari Twitwar Ke Twitwar-Arman Dhani

Suatu kali sebelum pemilihan presiden 2014 lalu saya membaca status entah siapa di salah satu media sosial. “Kalau kamu tidak ikut memilih, kamu tidak berhak mengomentari atau protes dengan baik buruk apapun yang dilakukan pemerintah nanti. Kalau kamu memilih dan pilihanmu kalah di pemilihan nanti adalah hakmu untuk mengomentari atau protes dengan baik buruknya kinerja pemerintah. Tapi kalau kamu memilih dan pilihanmu menang maka kamu wajib mengomentari, protes, atau mengkritisi jalannya pemerintahan nanti.” Ya, memang hak kita sebagai pemilih dan pendukung Jokowi untuk selalu mengingatkan beliau jika beliau salah jalan atau melenceng dari janji-janjinya atau melukai hati negara tercinta ini.

Awal tahun ini saya menyelesaikan membaca buku Arman Dhani, Dari Twitwar Ke Twitwar dalam waktu kurang dari seminggu. Buku mas Dhani (sok akrab banget deh saya ini manggil mas) ini berisi kumpulan artikel-artikel beliau yang pernah dipublikasikan ke beberapa media daring. Tulisan-tulisan satir mungkin memang merupakan khas beliau. Membaca buku ini membuat saya berpikir ulang saat ingin mendukung atau tidak pada suatu keadaan. Mungkin kita harus melihat dari sudut pandang yang berbeda, atau kita perlu klarifikasi terlebih dahulu dari mereka yang kita jadikan tertuduh.

Tulisan-tulisan mas Dhani juga kadang membuat saya iri, bisakah saya menulis seperti beliau ini. Kadang saat menulis sesuatu saya sering mengabaikan fakta dan memunculkan prasangka saya sendiri pada tulisan saya. Saya menggiring opini pembaca agar sependapat dengan saya. Tapi mas Dhani malah mengulas satu persatu kesalahan presiden terpilih Jokowi meskipun semua orang tahu kalau mas Dhani adalah penndukung Jokowi garis keras. Betapa berat buat saya menjelek-jelekan apa yang saya bela, apa yang saya dukung, walaupun saya sering kali tahu bahwa apa yang saya bela, apa yang saya dukung juga kada mengecewakan.

Tulisan-tulisan mas Dhani mengajak kita melihat dari sudut pandang yang berbeda pada setiap keadaan, kejadian. Sering kali sudut pandang inilah yang kita abaikan sebelum kita memutuskan. Mas Dhani juga mengajak kita untuk jujur, jujur berpendapat namun berdasarkan fakta. Bukannya hanya menjadi seorang fanatik mati.

Mungkin saya harus banyak belajar dari mas Dhani. Menulis dengan netral tanpa baper prasangka tapi mengutamakan fakta. Mendukung dengan jujur, menyatakan salah saat bersalah dan memberikan pujian saat pencapaian didapat.

Sudut pandang berbeda membuat kita belajar bahwa kebenaran itu bukan hanya hitam dan putih dan juga tidak hanya kita saja yang bisa menentukan hitam dan putih itu. Kebenaran ini adalah kesepakatan, entah hitam entah putih yang penting semua senang.

Manusia Pemakan Ikan: Belida Bakar Sambal Dabu-Dabu

Bagi yang tinggal di Kalimantan, adalah biasa jika sumber protein utamanya adalah ikan, terutama ikan air tawar. Terlalu banyak sungai malang melintang di pulau Kalimantan yang katanya masih di dominasi hutan, rawa, dan sungai tentunya.

Palangkaraya, kota terlembab yang pernah saya tahu. Saya bahkan tidak memerlukan lotion untuk membalut kulit setelah mandi, kecuali setelah berenang lebh dari satu jam. Di kota Palangkaraya sumber protein utamanya adalah ikan air tawar. Akan sangat menemukan ikan air tawar di pasar-pasar tapi memerlukan usaha ekstra untuk mencari ikan air asin di pasar-pasar di kota Palangkaraya. Tak seperti kota-kota di Jawa tentunya.

Selama berkuliah di Yogyakarta, saya selalu rindu untuk mengkonsumsi ikan yang sepertinya bukan jadi kegemaran masyarakat lokal. Bahkan kawan saya bercoloteh, “orang Kalimantan adalah manusia pemakan ikan.”

Suatu sore saya menemani ibu berbelanja di pasar tradisional yang hari pasarnya adalah hari rabu dan minggu itupun hanya buka sore sampai malam hari. Dan lokasinya bukan lah seperti pasar pada umumnya, lokasinya adalah jalan jalur ganda yang dipisahkan jalur hijau yang merupakan jalan masuk komplek permukiman.

Ibu saya membeli ikan Belida, ikan yang agak susah mengeksekusinya karena hampir setengah dari keseluruhan badan ikan dipenuhi duri dan kurang nyaman menikmatinya. Sebenarnya ikan Belida adalah ikan yang secara rasa termasuk ikan kegemaran saya. Karena berduri namun gurih itu pula biasanya ikan Belida diolah menjadi baso ikan atau bahkan kerupuk. Kawan saya yang berdomisili di Jambi pernah menceritakan kalau ibunya biasa mengolah ikan Belida menjadi mpek-mpek. Karena ikan Belida jarang sudah ditemukan di pasar makan digunakanlah ikan Tenggiri sebagai gantinya.

Ibu saya membumbui ikan Belidanya dengan perasan jeruk nipis, garam, bawang putih, kunyit, dan jahe sebelum membiarkannya beku di lemari es. Saya kemudian menambahkan perasan jeruk nipis, minyak sawit, dan sedikit kecap manis kemudian membakarnya di peamanggang anti lengket.

Ikan bakar tentunya kurang nikmat tanpa sambal. Jadilah saya merajang bawang merah, tomat, cabe rawit, dan bunga kecombrang. Saya campurkan dengan sedikit garam dan perasan jeruk nipis kemudian.

Makan malam yang menyenangkan dan membuat saya bersemangat kemudian.

11053182_10204842837492801_7859038225338020012_n

Ayo makan-makan enak

Jangan terlalu sering arik

Biar bahagia sejenak

Supaya tak jadi pelak

Kisah Masa Lalu: Constellation-Stars And Rabbit

20150809_114647[1]

Sore ini saya menikmati lelagu dari pemutar lagu di telepon seluler saya. Beberapa lagu yang membuat saya melakukan perjalanan ke masa lalu. Karena sebagian besar lagu yang saya dengar pernah saya dengarkan di masa lalu dan menyimpan beberapa kisah masa lalu.

Stars And Rabbit tahun ini (2015) merilis album Constellation, dan lagu mereka lah yang saya dengarkan sore ini. Santai sore dengan lagu kenangan di tepi kolam, syahdu.

Saya memutar dengan acak lagu di album Constellation. Lagu yang saya dengar pertama kali adalah Man Upon The Hill dan lagu ini langsung membawa saya ke masa lalu.

*

Pertama kali mendengar Stars And Rabbit dari kawan yang adalah pendengar musik independen Akan ada konser dari Stars And Rabbit, Dialog Dini Hari, dan White Shoes And The Couples Company di Teater Garasi, Yogyakarta dalam Konser Suara 7 Nada 7 Maret 2013 lalu. Sepertinya kawan saya itu (yang katanya juga tak begitu mengenal Stars And Rabbit) sedang mempersiapkan diri agar maksimal nantinya menikmati konser tersebut mungkin sambil sedikit menguliahi saya, “ini salah satu yang akan tampil di konser yang akan kita tonton nanti.” Dan lagu kesukaannya saat itu adalah Rabbit Run yang sayangnya tidak dibawakan saat konser berlangsung. Mungkin kawan saya itu masih menyimpan daftar lagu yang dimainkan saat konser tersebut. Saat menonton Stars And Rabbit dalam konser tersebut seperti telinga saya ditipu oleh pemutar lagu dari komputer jinjing kawan yang menguliahi saya tadi. Stars And Rabbit jauh lebih memukau saat ditonton langsung.

Suatu kali saya mengantar kawan saya piknik, dan akhir piknik malam itu adalah pasar Ngasem. Saat itu sedang ada festival kesenian Yogyakarta (FKY) yang ke 26. Saya melihat jadwal panggung mereka dan berhasil menemukan nama Stars And Rabbit akan tampil di akhir minggu. Dengan niat dan semangat 45 saya berhasil nodong kawan saya menemani saya menyaksikan Stars And Rabbit sekali lagi. Tampilan mereka malam itu seperti biasanya selalu memukau terutama saat mereka mengakhiri tampilan mereka dengan Man Upon The Hill. Saya ikut berdiri bertepuk tangan selain memang tampilan mereka memukau sebenarnya saya lebih ingin menyeka air mata supaya kawan saya disebelah tak perlu tahu kalau the man upon the hill saya telah menemukan rumah yang baru dan sayangnya saya belum seharusnya bahagia. Malam itu kedua kalinya saya menikmati penampilan Stars And Rabbit dan kedua kalinya saya mendengar perkataan mba Elda sang vokalis, “tak pernah saya patah hati sejelas ini.”

*

Lagu Cry Little Heart kemudian menyusul lagu sebelumnya. Sialnya saya terbawa suasana untungnya tak sampai menangis lagi. Seperti diingatkan untuk menenangkan hati yang sedang duka, memejamkan mata, mendengarkan hembusan angin. Sungguh andai saja kolam yang ada di depan saya ini bukan kolam ikan tetapi kolam renang, mungkin saya sudah membenamkan diri ke air yang dingin. Tapi kemudian saya berpikir, mungkin saya harus membungkus telepon seluler saya terlebih dahulu dengan plastik tahan air, mungkin sekalian membungkus earphone entah bagaimana cara membungkusnya.

Sudahlah, saya ingin melanjutkan menjelajah masa lalu menikmati lelagu dari Stars And Rabbit. Sebaiknya Anda menikmatinya juga.

Berbahagialah kamu

Jangan lagi kudengar keluh kesahmu tentang rumah ataupun pekerjaanmu

Bukankah itu semua keinginanmu

Supaya aku bisa berbahagia sebagaimana kamu